Indonesia Gandeng Filipina; Usung Pasar Rumput Laut

Indonesia Gandeng Filipina; Usung Pasar Rumput Laut

Jakarta, Kabarindo- Dari rilis yang baru saja diterima redaksi.

Demi memenuhi konsumsi rumput laut dunia, Indonesia-Filipina berdamai. Di bawah payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kedua negara berjanji akan berkolaborasi untuk menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dan memaksimalkan pemenuhan pasar rumput laut dunia.

Kolaborasi ini diwujudkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dengan Seaweed Industry Association of the Phillipines (SIAP).

"Selama ini Indonesia dan Filipina merupakan pesaing dalam sektor rumput laut. Namun kita mulai melihat dengan perspektif baru. Pasar dunia untuk rumput laut sangat besar sehingga kedua negara dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan rumput laut dunia,” kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, saat memberi sambutan pada acara penandatanganan, di Manila, Filipina, beberapa hari lalu.

Lebih lanjut, Wamendag menjelaskan bahwa ARLI dan SIAP sepakat untuk melakukan kerja sama pengolahan dan pemasaran rumput laut sejumlah 50 ribu ton, atau senilai sekitar USD 50 juta. Indonesia saat ini
mengekspor sekitar 180 ribu ton rumput laut dengan nilai sekitar USD 165 juta.

Penandatanganan kerja sama itu merupakan 'win win situation' bagi kedua negara.

“Filipina dapat mempertahankan pangsa pasarnya yang sering terganggu produksinya akibat taifun, sedangkan Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah produknya. Sebagai penghasil dan eksportir rumput laut Indonesia dan Filipina dapat bekerja sama dari hulu sampai hilir daripada bersaing satu sama lain.

Keduanya sepakat saling memperkuat pengembangan industri hilir rumput laut, yaitu SIAP untuk food grade seaweed, sedangkan Indonesia untuk pengembangan rumput laut sebagai bahan baku biofuel,” ungkap Bayu.

Filipina bahkan ingin membangun industri rumput laut di sentra-sentra produksi di Indonesia. “Diharapkan investasi tersebut dapat mendukung perkembangan industri rumput laut nasional,” imbuhnya.
Saat ini 97% ekspor RI datang dari dua provinsi yaitu Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, sedangkan potensi pengembangan tersebar di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Bali.

Wamendag melakukan kunjungan kerja ke Manila, Filipina, Jumat (12/9) untuk meningkatkan kerja sama di sektor komoditas rumput laut dan kelapa sawit (CPO), serta di sektor pertambangan. Selain itu, juga terkait pemantauan peningkatan penjualan barang-barang konsumsi Indonesia ke Filipina yang tumbuh cukup pesat, antara lain furnitur, donat, kecap, minyak goreng, bumbu, dan mi instan.

Menurut Bayu, penguatan kerja sama merupakan hal penting dalam persiapan menghadapi MEA. Perdagangan intra-ASEAN diharapkan dapat meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, perlu cara pandang
baru untuk melihat berbagai kesempatan dalam meningkatkan perdagangan antar negara ASEAN.

Untuk menegaskan komitmen kedua negara, Wamendag juga melakukan pertemuan bilateral dengan Undersecretary for Industry Development and Trade Policy, Departement of Trade and Industry Phillipines, Adrian S. Cristobal, Jr. Guna membahas perkembangan konektivitas laut di Indonesia. Hal ini terkait dengan dibukanya Pelabuhan Bitung untuk impor produk tertentu, terbatas pada produk makanan dan minuman, pakaian jadi, serta peralatan elektronik melalui Permendag No.36/2014 tanggal 3 Juli 2014.

Dalam pertemuan ini Bayu menegaskan kembali harapannya agar kerja sama yang akan dimulai di sektor komoditas rumput laut ini dapat ditingkatkan menjadi ekspor bernilai tambah dan perusahaan rumput laut Filipina juga berinvestasi di Indonesia. Rangkaian kunjungan kerja ini juga melibatkan sektor swasta, seperti perusahaan kelapa sawit Indonesia yang diundang oleh Filipina untuk berinvestasi di Filipina. Kemendag yang diwakili oleh Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Nurlaila Nur Muhammad, mempertemukan beberapa perusahaan kelapa sawit Indonesia dengan Direktur Eksekutif Foreign Trade Services Corps (FTSC) Raymond Albert H. Batac dan para delegasi, serta representasi dari sektor kelapa sawit Filipina. Peningkatan GDP Pada saat yang sama, diselenggarakan pula pertemuan mengenai sektor pertambangan antara Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Didi Sumedi, dengan para delegasi serta representasi dari sektor pertambangan Filipina. Dalam kesempatan ini, Wamendag mengadakan kunjungan ke Ethnic Shop, toko yang menjual berbagai furnitur asal Indonesia. Saat berdialog dengan pengusaha tersebut disampaikan bahwa sejauh ini tidak terdapat kendala dalam proses pembelian dan pengiriman barang ke Filipina. Permintaan produk furnitur Indonesia juga cukup tinggi dan berprospek cerah. Wamendag selanjutnya mengadakan kunjungan ke beberapa pusat ritel di Manila dan menemukan beberapa produk Indonesia yang banyak dijual di sana, antara lain kecap ABC, minyak goreng Bimoli, dan Kopiko. Bayu meyakini kunjungan ini dapat meningkatkan pendapatan kedua negara. "Total perdagangan kedua negara yang saat ini mendekati USD 5 miliar idealnya dapat mencapai USD 12 miliar, atau 1% dari total GDP kedua negara. Oleh karena itu, diharapkan rangkaian kunjungan kerja ini dapat membantu pencapaian target tersebut,” ujar Bayu. Sekilas Perdagangan Indonesia-Filipina Neraca perdagangan Indonesia-Filipina dalam lima tahun terakhir mengalami tren peningkatan signifikan, dari USD 1,86 miliar pada tahun 2009 menjadi USD 3,04 miliar pada 2013, atau meningkat sebesar 12,1%. Adapun neraca perdagangan semester 1 2014 tercatat sebesar USD 1,52 miliar, meningkat 3,66% dari periode sebelumnya senilai USD 1,46 miliar pada semester 1 tahun 2013. Tren ekspor Indonesia ke Filipina mengalami peningkatan dari USD 2,41 miliar pada 2009 menjadi USD 3,82 miliar pada 2013. Peningkatan ini mencapai 11,36% dalam lima tahun terakhir. Ekspor semester 1 tahun 2014 juga menunjukkan hal positif, naik sebesar 0,44% dari semester 1 tahun 2013 atau meningkat dari USD 1,86 miliar menjadi USD 1,87 miliar. Total perdagangan pada periode 2009-2013 mengalami tren peningkatan sebesar 10,9%, dari USD 2,94 miliar pada tahun 2009 menjadi USD 4,59 miliar pada 2013.