Indonesia; Bidik Pasar Korea Selatan

Indonesia; Bidik Pasar Korea Selatan

Surabaya, Kabarindo- Dalam meningkatkan ekspor, para pelaku usaha harus memiliki kepekaan terhadap selera pasar yang sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, ekonomi, sosial, dan budaya.

Penguasaan dan pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan
produk yang berkualitas juga sangat diperlukan untuk memperbesar kemungkinan produk tersebut diterima oleh konsumen global.

Hal itu dipapar lugas oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami pada acara seminar “Korean Market
Access Seminar for Food Products of Indonesia” pada 21 Agustus 2013 di Hotel Meritus Surabaya City Centre, Surabaya.

Seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan ASEAN-Korea Centre (AKC) tersebut ditujukan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar, serta memberikan panduan dalam menentukan strategi pemasaran yang efektif termasuk prosedur ekspor, khususnya ke negara Korea.

Dalam upaya memenangkan persaingan di pasar global, pemerintah terus berupaya melakukan strategi yang komprehensif untuk dapat terus mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan penetrasi dan diversifikasi ke pasar-pasar di Asia termasuk Korea, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, serta Australia-Oceania.

Republik Korea merupakan salah satu negera tujuan ekspor utama bagi produk-produk Indonesia yang telah memiliki skema kesepakatan dalam bentuk ASEAN-Korea FTA.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor Indonesia selama lima tahun terakhir meningkat dari USD 137 miliar pada tahun 2008 menjadi USD 190 miliar pada tahun 2012, dengan tren 12,88%. Sementara, hingga Juni 2013, nilai ekspor Indonesia sudah mencapai USD 91 miliar, dengan 10 negara terbesar tujuan ekspor yaitu China, Jepang, Amerika Serikat, India, Singapura, Malaysia, Republik Korea, Thailand, Belanda dan Taiwan.

Khusus untuk produk makanan olahan, nilai ekspor Indonesia ke dunia terus mengalami peningkatan dengan tren pertumbuhan sebesar 15,59%. Begitu pula dengan nilai ekspor makanan Indonesia ke Korea juga mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2008 hanya mencapai nilai USD 36,7 juta, sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi USD 66,2 juta atau dalam periode 5 (lima) tahun telah terjadi peningkatan sebesar 80,4%.

Pada seminar ini, hadir sebagai pembicara sekaligus tenaga ahli dari Korea Selatan yang merupakan perwakilan dari perusahaan yang bergerak di bidang makanan olahan, hasil laut dan pertanian yaitu Emart, Pulmuone, dan CheiJedang. Para pembicara memaparkan tentang potensi produk makanan olahan Indonesia di Korea, serta hal-hal yang harus diperhatikan agar produk Indonesia dapat diterima di pasar Korea Selatan, termasuk dalam hal standar produk dan berbagai ketentuan ekspor ke pasar Korea Selatan. Selain itu, juga dibahas mengenai kemasan makanan olahan, khususnya teknik pengemasan, yang selain berfungsi sebagai pengaman produk, juga memperhatikan sisi estetika sehingga tampil lebih menarik, serta berbagai teknologi terkini dalam membuat kemasan tersebut.

Di akhir kegiatan, dilakukan pertemuan bisnis antara para peserta dengan buyer.

Selain memberikan informasi pasar Korea, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan jejaring kerja sama bisnis antara pelaku usaha Indonesia dengan Korea.

“Kami berharap melalui kegiatan ini para pelaku usaha Indonesia akan semakin terbuka wawasannya dan dapat berinovasi serta meningkatkan kualitas produk-produknya. Para pelaku usaha juga diharapkan dapat menindaklanjuti hasil komunikasi yang telah dilakukan selama kegiatan business matching sehingga mampu memperluas jaringan pemasaran di dalam negeri maupun manca negara,” kata Gusmardi Bustami.

Selain di Surabaya, rencananya kegiatan serupa juga akan dilaksanakan hari ini, 22 Agustus 2013, di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta.