Indonesia Apresiasi RS Gleneagles Singapura; Selamatkan Nyawa Pasien Tuberkulosis Akut

Indonesia Apresiasi RS Gleneagles Singapura; Selamatkan Nyawa Pasien Tuberkulosis Akut

Surabaya, Kabarindo- Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia.
 
Sejak1992, World Health Organization (WHO) mencanangkan tuberkulosis (TB) sebagai Global Emergency. Laporan WHO pada 2004 menyatakan terdapat 8,8 juta kasus baru TB pada 2002. Persebaran terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus di dunia.
 
Di Indonesia hingga akhir 2013, prevalensinya menurun signifikan dalam beberapa tahun terakhir, namun jumlah penderita TB masih terbilang tinggi. Saat ini jumlah penderita TB di Indonesia menempati peringkat empat terbanyak di dunia. Prevalensi TB di Indonesia pada 2013 tercatat 297 per 100.000 penduduk dengan kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus. Total kasus hingga 2013 mencapai sekitar 800.000-900.000 kasus.
 
Ahli bedah Cardiothoratic RS Gleaneagles Singapura, dr.Su Jang Wen mengatakan negara-negara Asia Tenggara yang memiliki beban tertinggi TB perlu banyak belajar dari negara yang tergolong sukses menanggulangi TB.
 
“Upaya pemberantasan TB perlu melibatkan kemitraan yang luas, tak sekadar menyangkut masalah pendanaan, namun juga dalam hal akses terhadap teknologi dan penanganan terbaru dalam menghadapi penyakit ini,” ujarnya dalam rilis yang diterima dari RS Gleneagles Singapura pada Senin (16/11/2015).
 
Koordinasi antar dokter di RS Gleneagles Singapura berhasil menyelamatkan nyawa seorang pasien dari Vietnam, Tran Thien Khoa, yang terinfeksi paru-paru oleh bakteri sehingga mengidap TB. Kondisinya akut. Berat badannya terus menyusut hingga 33 kilogram. Tubuhnya terus-menerus demam dan tarikan napasnya menyempit. Ia sering mengalami batuk darah dan sesak napas, sehingga kemudian menjalani perawatan di RS Gleneagles Singapura selama satu bulan.
 
Menurut dr.Su Jang Wen, kasus yang dialami Khoa merupakan salah satu kasus paling sulit yang pernah ditangani tim dokter RS Gleneagles Singapura.
 
“Kami sangat bingung atas situasi ini. Tim dokter dan keluarga akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko dan mengijinkan dia dioperasi untuk mengangkat paru-paru sebelah kirinya,” ujar saudara Khoa.
 
Setelah melewati 2 kali operasi, tim dokter berhasil mengangkat paru-paru yang terinfeksi. Memasuki minggu kedua paska operasi, Khoa terserang rasa sakit yang hebat di bagian perut dan sulit bernapas. Hasil pemeriksaan ultrasound menyatakan bahwa enzim livernya naik di sekeliling dinding jantung. Maka dilakukan operasi ketiga yang berjalan sulit karena kondisi pasien yang kritis dan tekanan darahnya rendah akibat kehilangan darah. Syukurlah, operasi ini berhasil dan kondisi Khoa perlahan-lahan semakin membaik.
 
“Sekarang, penyakit itu dan rasa sakitnya sudah hilang,” kata Khoa.
 
 Kini kondisi Khoa stabil dengan paru-paru yang berfungsi baik. Dia masih harus meneruskan pengobatan anti infeksi selama satu tahun agar sembuh total.
 
Dari kisah ini, dr. Su Jang Wen berharap para penderita TB lainnya, termasuk di Indonesia, selalu bersemangat dalam menjalani pengobatan agar benar-benar sembuh. Dengan kemajuan teknologi, TB dapat dicegah dan diobati hingga tuntas.