Indonesia 2015; Sudah Jadi Negara Penyuplai 80% Kebutuhan Rotan Dunia

Indonesia 2015; Sudah Jadi Negara Penyuplai 80% Kebutuhan Rotan Dunia

Katingan, Kalimantan Tengah, Kabarindo- Pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan meresmikan Sistem Resi Gudang (SRG) rotan pertama di Indonesia, pekan ini.

Lokasi pergudangan berada di Kawasan Industri Rotan Hampangen, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Sebagai penghasil rotan terbesar di Kalimantan, kabupaten ini diharapkan mampu mengoptimalkan integrasi hulu dan hilir, antara kebutuhan petani dengan industri.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Manajemen Djunaedi menegaskan stok rotan di Katingan sangat melimpah. Harga rotan terus turun akibat ditutupnya kran ekspor rotan mentah. Pada saat yang sama, petani/pemungut rotan membutuhkan modal kerja.
“Kebijakan menjadikan rotan sebagai salah satu komoditas yang disimpan di gudang SRG adalah untuk menjembatani kebutuhan petani/pemungut rotan dengan kalangan industri rotan," ujar Djunaedi, yang mewakili Kepala Bappebti Sutriono Edi, meresmikan gudang SRG untuk komoditas rotan.
Produksi rotan yang dihasilkan di daerah sentra produksi dapat diserap dengan mudah dan terjamin mutunya oleh industri. Ketersediaan stok rotan yang memenuhi kebutuhan industri rotan dapat menjadi modal utama tumbuhnya industri rotan dalam negeri yang berdaya saing.

“SRG merupakan instrumen perdagangan dan pembiayaan yang dapat mendukung upaya peningkatan daya saing perdagangan, dan perluasan akses peningkatan modal kerja bagi para petani, UKM, maupun pelaku usaha lainnya, termasuk untuk komoditas rotan,” tegas Djunaedi.

Djunaedi mengungkapkan, rotan merupakan salah satu penghasil devisa negara yang cukup besar. Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor barang kerajinan berbahan dasar rotan dan sebagai pemasok bahan baku produk rotan terbesar di dunia. Setiap tahun Indonesia menyuplai 80% kebutuhan rotan dunia dan sekitar 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dan sisanya dihasilkan dari budidaya rotan.

“Optimalisasi pengembangan komoditas SRG, khususnya rotan, merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Pusat dan Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil menengah,” lanjut Djunaedi.

Acara peresmian gudang SRG ini dihadiri Bupati Katingan Ahmad Yantenglie, Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, koperasi, pelaku usaha rotan, instansi terkait, serta SKPD terkait di wilayah Katingan dan sekitarnya.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 08/M-DAG/PER/02/2013 tentang Barang yang dapat Disimpan di Gudang dalam Penyelenggaraan SRG, terdapat 10 komoditas yang dapat disimpan di gudang SRG yang terbagi dalam dua bagian berdasarkan terciptanya ketahanan pangan, yaitu gabah, beras, dan jagung; serta berdasarkan terciptanya peningkatan industri dan ekspor, yaitu kopi, kakao, lada, karet, rotan, rumput laut, dan garam. Komoditas dalam SRG dapat ditambah berdasarkan usulan dari Pemda, instansi terkait, dan asosiasi komoditas dengan memperhatikan persyaratan daya simpan, standar mutu, dan jumlah minimal barang yang disimpan.

Rotan Katingan
Kabupaten Katingan yang beribukota di Kasongan ini merupakan penghasil rotan terbesar di Kalimantan. Dari 13 kecamatan, tercatat 10 di antaranya merupakan wilayah penghasil rotan. Tak heran jika Kabupaten Katingan mampu menghasilkan produksi rotan asalan hasil budidaya mencapai 600-800 ton/bulan yang berasal dari 10 kecamatan, menjadikan rotan merupakan produk unggulan di samping produk lainnya seperti kayu, damar, karet, dan lain-lainnya.

“Fasilitas yang telah kita bangun bersama dari Dana Alokasi Khusus Kementerian Perdagangan Tahun Anggaran 2014 ini semoga dapat dimanfaatkan para petani, kelompok tani, gapoktan, dan koperasi/UKM, maupun para pedagang dan eksportir sebagai sarana tunda jual dan alternatif pembiayaan perdagangan. Dengan demikian berbagai manfaat SRG dapat segera dirasakan oleh masyarakat kita, khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah,” ujar Djunaedi.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, jenis rotan yang banyak diusahakan masyarakat Katingan meliputi rotan taman (sega dan irit), rotan marau/manau, dan rotan sabutan. Pemilihan jenis andalan rotan ini antara lain karena memiliki nilai ekonomi tinggi, menghasilkan batang berkualitas, dan banyak dimanfaatkan.

Kerajinan rotan yang dihasilkan masyarakat Katingan memiliki ciri yang sangat khas jika dibandingkan kerajinan rotan dari Pulau Jawa. Kerajinan rotan Katingan menggunakan motif khas Dayak, seperti kemang atau burung tingang. Motif-motif tersebut memang sudah melekat dengan kebudayaan dan menjadi ciri etnisitas Suku Dayak. Aneka kerajinan rotan yang dihasilkan para perajin Kabupaten Katingan tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun juga telah dipasarkan ke luar negeri, terutama Eropa.

Perkembangan Resi Gudang
Sejak diimplementasikan pada 2008 sampai 30 November 2015, penerbitan resi gudang telah dilakukan di 59 kabupaten/kota yang tersebar di 15 provinsi meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Dengan semakin berkembangnya implementasi SRG di beberapa daerah di Indonesia, nilai resi gudang yang diterbitkan menunjukan pertumbuhan yang signifikan.
Pada 2014 tercatat pertumbuhan nilai resi gudang mencapai 7%, sedangkan nilai pembiayaan dengan skema SRG oleh perbankan mencapai pertumbuhan sekitar 25%. Lembaga keuangan yang telah memberikan pembiayaan dalam skema SRG antara lain Bank Rakyat Indonesia, BJB, Bank Jatim, Bank Jateng, Bank Kalsel, Bank Sumut, Bank Lampung, LPDB Kemenkop UKM, dan PKBL PT. KBI, dengan total nilai pembiayaan mencapai Rp 267,67 miliar.

Kemendag terus melakukan berbagai upaya mendorong perluasan pelaksanaan SRG dengan membentuk kelompok kerja, melakukan sosialisasi, melatih tenaga penyuluh dan tenaga pengawas, melaksanakan MoU dengan kementerian/lembaga terkait, serta membangun gudang.