Imperata Nomadechic; 114 Koleksi Teranyar Lini Kedua Eddy Betty

Imperata Nomadechic; 114 Koleksi Teranyar Lini Kedua Eddy Betty

Grand Ballroom Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kabarindo- Kali ini kain tenun ende yang ia jadikan andalan.

Terhitung sejak tahun 2010 lalu, desainer yang sebelumnya lebih dikenal melalui koleksi busananya yang bernuansa adibusana.

Eddy Betty, melansir sebuah lini kedua yang ia beri nama “edbe” atau yang dibaca e.di.bi. Melalui lini keduanya ini, sang desainer mencoba untuk merambah pangsa pasar busana siap pakai dengan sebuah konsep kuat yang mengusung kain tradisional sebagai bahan baku utamanya.

Telah dua kali meluncurkan rangkaian koleksi yakni pada tahun 2010, dan 2011, edbe mengandalkan kain batik tulis sebagai media utama pada setiap potong koleksinya.

Namun,  hal berbeda justru ia suguhkan pada pegelaran busananya di tahun 2012 ini. Edbe tidak lagi menjadikan batik tulis sebagai senjata utama, dan ganti mengangkat tenun bali dan tenun ende sebagai nafas utama dalam rangkaian koleksi teranyarnya.

Bersama pasangan bisnisnya, Ley Sandjaja, ia sengaja mengaplikasikan kain-kain tenun Bali yang indah. Mereka ingin meramaikan industri busana siap pakai di Indonesia dengan koleksi edgy yang mampu mengangkat keindahan wastra nusantara yang begitu kaya. Itulah sebabnya pada koleksi ini edbe seperti bertutur tentang perjalanannya yang tak akan terhenti pada kain batik saja, namun akan terus berlanjut dengan keragaman kain-kain nusantara lainnya.

"Ini adalah kado kita, saya dan Ley dari Bali. Inspirasinya datang ketika kami berdua pergi ke Bali untuk berlibur. Kami menggunakan tenun Bali dan mengolahnya agar tetap kasual, fashionable tapi tetap punya personality”, ungkap Eddy Betty ketika konfrensi pers yang berlangsung sekitar satu jam sebelum pagelaran busana dimulai.

Seperti yang sudah diungkapnya, pada koleksinya kali ini, Eddy dan Ley benar-benar terhipnotis oleh keindahan kain tenun Bali. Mereka kemudian tidak hanya menelusuri keindahan kain tenun yang masih dibuat secara manual tapi juga menyusuri sejarah terciptanya kain tenun Bali ke tempat asalnya diseputaran Klungkung, Ubud dan Gianyar.

Motif-motif asli yang pada dasarnya sudah memukau mata kemudian dicoba untuk berevolusi menjadi motif-motif khas edbe yang lebih santai, berjiwa muda, dan edgy.

Mengusung tema “Imperata Nomadechic” atau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “From Sunrise to Sunset”, pagelaran busana edbe kali ini menghadirkan tak kurang dari 114 outfit yang dibagi menjadi 3 sekuens utama.

Dalam sekuens pertama busana siap pakai berbahan tenun yang terdiri atas gaun pendek, kemeja, celana jodhpur, celana panjang, celana pendek ¾ , blus, jumpsuit hingga gaun asimetris dihadirkan dalam sentuhan warna-warna pagi yang cerah seperti biru, kuning, merah, hijau dan orange.

Warna-warna inilah yang kemudian seolah melukiskan keindahan alam di kala matahari baru saja terbit di ufuk timur.

Linen menjadi paduan yang apik bagi tenun Bali yang memiliki warna lebih lembut pada sekuens kedua. Di sekuens ini warna-warna yang lebih lembut seperti putih gading, hijau pupus, coklat muda dan abu-abu seakan menghadirkan semburat ketenangan jiwa ketika matahari berada di puncaknya.

Kesan mewah dalam warna-warna lebih gelap yang mendominasi koleksi adalah hal yang langsung tertangkap begitu memasuki sekuens ketiga. Kain tenun ende yang diolah menjadi 8 set busana pria dan 30 set busana wanita terlihat begitu memukau dalam warna-warna gelap yang mewakili keindahan kilau warna alam disaat senja ketika matahari merangkak naik menuju peraduan.