ITS Gandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan; Mendesain Alat Deteksi Kesegaran Ikan

ITS Gandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan; Mendesain Alat Deteksi Kesegaran Ikan

Surabaya, Kabarindo- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melalui Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LPP-MPHP) Bantul untuk pelaksanaan penelitian dan pengembangan metode deteksi kesegaran ikan non-destruktif pada ikan tuna.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh ITS yang diwakili Ketua LPPM ITS, Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT, dengan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan KKP, Ir Nugroho Aji MS, di ITS pada Jumat (4/11).

Perjanjian riset bersama tersebut dibawahi langsung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) KKP. ITS akan mengakomodasi riset penentuan parameter uji kesegaran ikan melalui perubahan citra mata ikan dan bau serta pengujian kinerja dan analisa sistem alat dengan menggunakan fasilitas laboratorium komputasi multimedia ITS.

Menurut Zainal Arifin dari LPP-MPHP Bantul, potensi tuna di laut kita sangat besar. Untuk melindungi konsumen dan nelayan saat memasok hasil tangkapan mereka, alat deteksi ini dapat membantu peningkatan produksi ikan tuna.

Selama ini, lanjut Zainal, pemeriksaan hanya dilihat secara fisik, sehingga sering kali ikan sudah rusak saat akan dikonsumsi. Dengan menggunakan alat ini, akan terdeteksi lebih awal kepastian ikan masih dalam kondisi segar, layak konsumsi atau sudah rusak.

“Cara kerjanya dengan mendeteksi melalui sensor bau dari kandungan alat amoniak pada ikan serta sensor citra gambar untuk mata ikan. Ikan diletakkan pada alat itu, kemudian lewat sensor akan diketahui, apakah ikan itu memang dalam kategori segar, layak konsumsi atau dikategorikan rusak,” papar Zainal.

Riset yang akan dilakukan dengan menghimpun data tentang ikan dengan tiga kategori tersebut dalam data base sebagai rujukan kerja sensor bau dan citra mata ikan. “Selama ini prototipe alat yang sudah ada bekerjanya masih manual, sehingga membutuhkan waktu lima menit untuk mengetahui kondisi ikan. Kami berharap bisa mengotomatisasi alat ini, sehingga bisa bekerja lebih cepat dan untuk jumlah yang banyak,” ujarnya.