ITS Ciptakan Alat Peringatan Gempa; Melalui SMS

ITS Ciptakan Alat Peringatan Gempa; Melalui SMS

Surabaya, Kabarindo- Gempa sering menyebabkan banyak korban jiwa maupun kerugian materiil karena kurang cepatnya peringatan kepada masyarakat.

Untuk itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember ((ITS) Surabaya merancang software pendeteksi gempa pada suatu bangunan. Software ini tidak hanya mampu mendeteksi gempa lebih awal, tetapi juga langsung memberikan peringatan cepat kepada masyarakat melalui pesan singkat atau short message service (SMS).

Robiy ‘Ul ‘Ars Al-Maliki, mahasiswa jurusan Teknik Sipil ITS yang merancang software ini mengatakan, alat ini dapat digunakan pada bangunan berstruktur beton. Karya tugas akhirnya yang berjudul Aplikasi Sistem Peringatan Dini pada Komponen Struktur Beton ini dapat digunakan pada bangunan gedung maupun jembatan.

“Alat ini menggunakan sensor straingauge untuk mendeteksi keretakan beton,” ujarnya saat mendemonstrasikan alatnya di Laboratorium Struktur Jurusan Teknik Sipil ITS, Jumat (6/12).

Sensor straingauge digunakan untuk membaca seberapa besar perpindahan yang terjadi pada material bangunan. Data yang diterima oleh sensor akan di-record menggunakan Data Logger, alat penghitung kondisi bangunan yang dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya beban.

Data yang terekam Data Logger akan otomatis terekam ke software yang akan menentukan antisipasi apa yang harus dilakukan oleh pihak terkait dan masyarakat sekitar. Misalnya di suatu apartemen ada indikasi terjadi gempa, maka akan disampaikan kepada para penghuni apartemen melalui SMS untuk menyelamatkan diri.

Masyarakat di wilayah gempa, sebelumnya harus melakukan register untuk mempermudah pengiriman SMS oleh software. Sedangkan untuk jembatan, pesan peringatan langsung dikirim ke pemerintah untuk segera mengambil kebijakan guna meminimalkan korban. Nantinya ITS akan bekerja sama dengan perusahaan provider untuk menyampaikan pesan peringatan.

Alat yang digunakan untuk gedung dan jembatan berbeda. Gedung menggunakan alat sensor akselerometer yang harus diletakkan di bagian atas atau atap bangunan, sedangkan jembatan menggunakan Lateral Vertical Displacement Transducer (LVDT) yang dipasang di besi maupun beton di tengah bentang jembatan. Posisi pemasangan sensor memperhitungkan momen ultimate atau besar perpindahan terbesar yang terjadi pada benda.

“Kalau pada gedung yang lebih mudah goyah kan bagian tertingginya. Karena itu dipasang di atap. Sedangkan titik berat jembatan di tengah, lendutan terbesarnya di bagian tengah,” ujar mahasiswa angkatan 2010 tersebut.

Nantinya alat tersebut akan dipatenkan. Saat ini masih terus dilakukan uji coba dan penyempurnaan.