House of Sampoerna; Ajak Ikuti Lunar Track

House of Sampoerna; Ajak Ikuti Lunar Track

Surabaya, Kabarindo- Tahun Baru Imlek sudah berlalu, namun atmosfirnya masih terasa.
 
Untuk itu, House of Sampoerna (HoS) melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) mengajak masyarakat untuk mengikuti Lunar Track dengan berwisata mengunjungi klenteng-klenteng di Surabaya.
 
Lunar Track diadakan hingga 15 Maret 2015 selama Selasa-Minggu pukul 15.00–16.30 yang diawali dari HoS dan kembali ke HoS. Tur pada Selasa dan Rabu mengajak para peserta (trackers) untuk mengunjungi Klenteng Boen Bio dan Pak Kik Bio. Pada Kamis dan Jumat, kunjungan dilakukan ke Klenteng Sam Poo Tay Djhien (Mbah Ratu) dan Hok An Kiong. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, peserta diajak mengunjungi Klenteng Hong San Koo Tee dan Jun Cin Kiung.
 
Klenteng Boen Bio merupakan tempat peribadatan Khonghucu. Klenteng Hok An Kiong adalah klenteng tertua di Surabaya dan merupakan tempat peribadatan Tri Dharma (Taoisme, Konghuchu dan Buddha). Sedangkan Klenteng Sam Poo Tay Djhien memiliki peninggalan kayu dari kapal Laksamana Cheng Ho.
 
Rani Anggraini, Museum Manager House of Sampoerna, mengatakan tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah Surabaya serta berbagai bangunan kuno namun memiliki nilai sejarah tinggi.
 
“Tur dapat diikuti oleh wisatawan maupun masyarakat secara gratis. Trackers dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya serta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru,” ujarnya.
 
Rani menjelaskan, masyarakat Tionghoa di Surabaya tetap memelihara tradisi yang dibawa oleh nenek moyang mereka. Salah satunya adalah perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina. Dalam menyambut Imlek, biasanya keluarga besar berkumpul dan makan bersama. Mereka juga bersembahyang ke klenteng.
 
Klenteng awalnya digunakan sebagai tempat untuk menghormati Makcho, dewa pelindung para pelaut dan nelayan dari Cina ketika berdagang di sekitar pesisir pulau Jawa pada abad 14. Klenteng mengalami perubahan yang signifikan bahkan terancam ditutup ketika pemerintah memberlakukan peraturan pada 1965 tentang pelarangan kebudayaan termasuk kepercayaan tradisonal Tionghoa. Akibatnya banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali dan mengubah nama sebagai vihara serta mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan. Setelah Hari Raya Imlek diakui pada 2002, klenteng pun mengganti nama kembali seperti nama semula. Sedangkan vihara tetap pada fungsinya sebagai tempat peribadatan umat Buddha.