Harga Bapok Cenderung Turun; Di Probolinggo

Harga Bapok Cenderung Turun; Di Probolinggo

Probolinggo, Kabarindo– Kota Probolinggo, Jawa Timur siap menghadapi pergantian tahun dengan harga barang kebutuhan pokok yang stabil cenderung turun dan pasokan cukup hingga dua bulan ke depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Ari Satria dalam kunjungan kerja memantau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok (Bapok) di Pasar Baru, Kota Probolinggo, Selasa (27/12) kemarin.

“Pantauan Kementerian Perdagangan di Pasar Baru Probolinggo pada H+2 Natal atau H-5 Tahun Baru 2017 menunjukkan harga barang kebutuhan pokok stabil dibandingkan seminggu sebelumnya. Harga komoditas seperti minyak goreng curah, daging ayam broiler, dan telur ayam ras tidak fluktuatif,” kata Ari.

Menghadapi Natal dan Tahun Baru 2017, Kemendag menurunkan tim pemantauan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok ke sejumlah daerah di Indonesia. Para Direktur Jenderal dan unit-unit kerja Kemendag turun langsung blusukan ke pasar-pasar. Hasilnya dilaporkan langsung ke Menteri Perdagangan.

Secara umum, dari hasil pantauan di Probolinggo menunjukkan sejumlah harga komoditas turun seperti gula pasir yang semula Rp13.000/kg menjadi Rp12.500/kg dan daging sapi dari Rp100.000/kg menjadi Rp95.000/kg. Cabai merah besar turun dari Rp40.000/kg menjadi Rp25.000/kg dan bawang putih dari Rp40.000/kg menjadi Rp35.000/kg. Namun, Ari menambahkan, ada kenaikan harga cabai rawit merah dari Rp35.000/kg menjadi Rp65.000/kg akibat kurangnya pasokan karena sebagian daerah pemasok mengalami gagal panen.
Khusus pantauan barang kebutuhan pokok di Pasar Baru Kota Probolinggo per 27 Desember 2016, harga terlihat relatif terkendali. Harga beras sebesar Rp10.375/kg, gula pasir Rp12.500/kg, minyak goreng curah Rp12.000/liter, dan tepung terigu Rp8.500/kg.

Selain itu, harga kedelai impor Rp9.000/kg, daging sapi Rp95.000/kg, daging ayam broiler Rp30.000/kg, dan telur ayam ras Rp22.000/kg. Sementara itu, cabai merah besar Rp25.000/kg, cabai rawit merah Rp65.000/kg, bawang merah Rp40.000/kg, bawang putih Rp35.000/kg, dan ikan Rp29.500/kg.

Pasar Baru yang menjadi lokasi pemantauan ini memiliki luas bangunan 3.287 m2, dengan jumlah pedagang sebanyak 609 orang dan jumlah pengunjung kurang lebih 1.500 orang per hari. Dalam kunjungan kali ini, tim dari Kemendag yang memantau harga didampingi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Kepala Disperindag Kota Probolinggo, dan Kepala Subdivre BULOG Probolinggo.
Selain melakukan pemantauan di Pasar Baru, tim juga mengunjungi Gudang BULOG Subdivre Probolinggo. Berdasarkan hasil kunjungan, tercatat bahwa pasokan barang kebutuhan pokok di gudang mencukupi hingga enam bulan ke depan. Stok ketersediaan beras pada saat kunjungan yakni sebanyak 21.209 ton, gula sebanyak 459.410 kg, tepung terigu sebanyak 2.176 kg, dan minyak goreng sebanyak 3.022 liter.

Pada hari peninjauan, BULOG Subdivre Probolinggo juga sedang menggelar Operasi Pasar untuk menjaga stabilitas harga menjelang Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 berupa beras (premium dan super), gula pasir, minyak goreng, dan tepung terigu yang digelar pada 19-31 Desember 2016.
Revitalisasi Pasar di Probolinggo
Tidak hanya memantau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok, tim juga memantau revitalisasi pasar di Probolinggo. Berdasarkan hasil pantauan, revitalisasi pasar yang menggunakan dana alokasi khusus (DAK) tahun 2016 belum dapat terealisasi karena belum adanya anggaran untuk pemindahan pedagang, sehingga ditunda pelaksanaannya menjadi tahun 2017. Untuk revitalisasi pasar 2017, terdapat tambahan dana dari Pemerintah Daerah Kota Probolinggo senilai Rp1,9 miliar, sudah termasuk anggaran pemindahan para pedagang. Adapun revitalisasi pasar yang berjalan saat ini di Pasar Baru Kota Probolinggo berasal dari DAK tahun 2014.

Pengawasan Barang Beredar
Pada kesempatan yang sama, tim juga melakukan pengawasan ke pasar rakyat dan toko ritel lokal untuk memastikan produk-produk yang diedarkan memenuhi ketentuan dan tidak ada yang menjual produk kadaluarsa.

“Kami juga melakukan pengawasan terhadap produk-produk yang beredar secara eceran. Hasilnya, tidak ditemukan produk-produk yang melewati masa kadaluarsa. Kami juga mencatat bahwa tidak ada indikasi barang-barang konsumsi hasil selundupan,” kata Ari.