Gerhana Matahari Total 2016; Sayang Jika Dilewatkan

Gerhana Matahari Total 2016; Sayang Jika Dilewatkan

Surabaya, Kabarindo- Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi pada Rabu (9/3/2016).

Istimewanya, Indonesia merupakan satu-satunya wilayah di dunia yang bisa menyaksikan fenomena alam yang langka ini.

GMT kali ini melewati beberapa lokasi di Indonesia di antaranya Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Sedangkan di Surabaya hanya dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian hanya 83% pada pukul 06.21 - 08.39 WIB.

Pakar astronomi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Bintoro Anang Subagyo SSi MSi, mengatakan fenomena ini merupakan kesempatan bagus dan langka untuk disaksikan masyarakat.

“Hal ini akan merangsang masyarakat untuk memiliki pola berpikir ilmiah dan meningkatkan rasa keingintahuan mengenai fenomena alam,” ujardosen Fisika FMIPA ITS ini.

Bintoro menjelaskan, sebenarnya gerhana matahari terjadi hampir setiap tahun, namun tidak di tempat yang sama. Ia mencontohkan pada Agustus 2017 mendatang diperkirakan akan ada GMT, namun hanya bisa disaksikan di wilayah Amerika Utara.

“Mungkin Indonesia akan mengalami GMT lagi sekitar 30 tahun ke depan. Namun tidak menutup kemungkinan adanya gerhana matahari parsial, cincin dan sebagainya,” papar pria asal Banjarmasin ini.

Menurut Bintoro, adalah suatu kesalahan jika masyarakat masih mengikuti tradisi zaman dulu yang melarang keluar rumah karena takut mengalami kebutaan. Padahal tidak masalah jika kita melakukan dengan cara yang benar. Yang membahayakan adalah jika menatap secara langsung proses gerhana matahari total.

“Saat matahari tertutup total tidak masalah. Tapi ketika matahari muncul kembali dengan intensitas cahaya yang tinggi dan pupil mata kita tidak siap, itu yang bahaya,” ujarnya.

Bintoro mengatakan, tak butuh alat mahal untuk aman melihat gerhana matahari. “Kita bisa membuat pinhole, menggunakan kedok las atau membeli kacamata khusus gerhana. Harganya sekitar Rp. 30 ribu-Rp. 50 ribu,” ujarnya.

Pinhole bisa dibuat dengan memberikan lubang kecil pada kertas karton atau kardus yang ditempeli aluminium foil. Lubang tersebut berfungsi menangkap sinar matahari untuk kemudian diproyeksikan pada kertas putih untuk pengamatan.

Jangan menggunakan kacamata hitam biasa. Terkadang kita bisa melihat matahari secara langsung dengan kacamata hitam, namun Bintoro menerangkan saat itu pupil kita telah beradaptasi sempurna.

“Alat bantu pengelihatan yang baik adalah yang mampu mereduksi cahaya hingga 100 ribu kali. Kacamata hitam tidak mampu mereduksi sebanyak itu,” ujarnya.

Bintoro menambahkan, akibat paling parah jika melihat gerhana matahari dengan cara salah memang kebutaan. “Terkadang pengelihatan menjadi kabur. Uniknya, gangguan pengelihatan ini tidak terjadi secara langsung setelah melihat gerhana, tapi bisa terjadi berhari-hari hingga berminggu-minggu setelahnya,” paparnya.