Gabungan Migran Muslim Indonesia Hong Kong (GAMMI HK); Sambut Tahun Baru Islam 1436 H

Gabungan Migran Muslim Indonesia Hong Kong (GAMMI HK); Sambut Tahun Baru Islam 1436 H

Victoria Park Hong Kong, Kabarindo- Sambut1 Muharrom 1436  Hijriyah.

Pekan lalu,  9 november 2014 kemarin Gabungan Migran Muslim Indonesia Hong Kong (GAMMI HK) menggelar dzikir akbar dengan tema “Semangat tahun baru hijriyah, teruskan semangat jihad melayani massa untuk menuju perubahan yang lebih baik dan sejahtera.

Bentuk solidaritas BMI sekaligus menjadi ajang doa bersama untuk almarhumah Sumarti Ningsih dan almarhumah Seneng Mujiasih, korban pembunuhan sadis oleh Rurrik Jutting mantan karyawan Bank Of Amerika Merrill Lynch di apartemenya di Wan chai.

Kurang lebih 300 BMI hadir dalam peringatan 1 Muharrom tersebut yang bertempat di area palem-palem (lapangan sepak bola) Victoria Park, Causeway Bay.

Ketua Gammi HK, Romlah Rosyidah menjelaskan dalam sambutannya “Peringatan tahun baru hijriyah ini bertujuan untuk memperkokoh ukhuwah islamiyah antar buruh migran sebagaimana dalam memaknai hijrahnya Rosululloh.

"Kalau dulu Rosululloh  berhijrah dari makkah ke Madinah dalam syiar agama Islam, kalau sekarang disini para buruh migran hijrah dari bumi pertiwi ke luar negeri sebagai bentuk perjuangan. Kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia banyak warga yang terpaksa mengadu nasib ke luar negeri demi masa depan keluarga," paparnya lugas.

Dalam acara ini juga dimeriahkan oleh grup sholawat dari BMI  dan juga tausiyah oleh Bapak Ustadz Amrullah Amsar dari Jakarta. Dalam tausiyahnya beliau mengambil sari inti dari Al-Qur’an yaitu surat An-Naml yang artinya semut.

”Dimana semut itu bersifat baik dalam bermasyarakat, pekerja keras, solid dalam memperjuangkan hidup dan bijak dalam mengatur pola hidup guna menghadapi paceklik atu krisis. Itulah semangat yang harus dabangun oleh umat Islam khususnya komunitas kaum baruh migran Indonesia di luar negeri.” ucap Ust, Amrullah.

Yang terakhir adalah do’a bersama untuk almarhumah Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih. Keduanya selain menjadi korban pembunuhan mereka juga menjadi korban peraturan pemerintah, yang selama ini sangat merugikan buruh migran, dengan aturan 2 minggu visa, potongan agen overcharnging,dilarang pindah agency, harus masuk dan melalui PJTKI serta sistim online.

Dengan peraturan-peraturan tersebut banyak BMI yang mengalami penindasan, pemerasan oleh agency bahkan penganiayaan oleh majikan, dan tidak banyak juga yang memilih untuk overstay karena dokumen ditahan oleh agen, seperti almarhumah Seneng Mujiasih.

Meski overstay adalah tindakan ilegal dan jumlahnya tidak signifikan, namun harus menjadi peringatan dan perhatian pemerintah, kalau tidak mau BMI banyak yang overstay dan rentan dengan eksploitasi, maka sudah seharusnya pemerintah merubah peraturan-peraturan yang mendiskriminasi buruh migran.

Alhamdulillah, acara peringatan tahun baru hijriyah berjalan lancar dan hikmad, semoga ditahun baru ini menjadi awal perjuangan BMI terwujud dan kesejahteraan berpihak pada kaum yang terpinggirkan.