Film Untuk Angeline; Jadi Momentum Anti Kekerasan Terhadap Anak Indonesia

Film Untuk Angeline; Jadi Momentum Anti Kekerasan Terhadap Anak Indonesia

Dapur Sunda Pondok Indah Mall, Jakarta, Kabarindo- Anda tentu masih terngiang dari pemberitaan massive dari media.

Alm Angeline yang harus meregang nyawa, gadis cilik di Bali di angkat ke layar lebar.

Dari pressconference yang baru saja digelar pagi tadi bahwa film ini akan digarap dalam perspektif Lele Laila sebagai penulis skenario film Untuk Angeline.

Ia menandaskan empati dan simpatinya untuk alm Angeline yang menghembuskan nafas sebagai korban tindak kekerasan di Bali beberapa waktu lalu sehingga tidak ada lagi Angeline-Angeline lainnya yang mengalami kekerasan fisik, mental sampai meninggal dunia.

Hal ini diaminkan oleh sutradara Djito Banyu yang diamanahkan oleh PH Citra Visual Sinema.

"Film ini drama dari potret gadis cilik Alm Angeline yang saat ini proses persidangan masih berjalan sebagai korban kekerasan sebagai pelajaran bagi bangsa ini agar tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang mengalami tindak kekerasan apalagi sampai meninggal," papar Djito Banyu yang memulai syuting di Bali dan Jakarta.

Dalam film ini sosok gadis cilik yang selalu tersenyum bahagia dan anak dari Midah yaitu Naomi Ivo, aktor cilik yang sudah membuktikan potensi dirinya dalam film Miracle, Jatuh dari Surga.

Sementara itu karakter ibunda alm.Angeline diperankan oleh aktris senior Kinaryosih yang terlihat tersedu-sedu karena ia mengaku film ini tidak hanya inspiratif dari perjuangan Midah ibunda almarhumah, perempuan lugu yang berasal dari desa kecil di Banyuwangi.

Deretan aktor dan aktris yang ikut mendukung adalah Teuku Rifnu Wikana, Dewi Hughes, Ratna Riantiarno, Emma Waroka, Paramitha Rusady dan pendampingan acting coach, Susilo Badar.

Lanjut disampaikan oleh Djito, syuting selama 25 hari dan sebagian besar di Bali dan InsyaAllah akan tayang pekan pertama di bulan April 2016.

Lele Laila menjelaskan skenario hanya berkutat pada proses persidangan saja jadi tidak menceritakan proses saat Alm. Angeline masih hidup dan termasuk saat pemberitaan Alm diculik jadi tidak menyentuh ranah yang sensitif hanya berkutat pada dramaturgi sang ibu Midah harus ditinggalkan sang anak secara tragis.

"Semua fakta sudah terbeber lengkap di media dan saya hanya berkutat dari sisi pandang bunda Alm. Angeline, Midah. Saya hadir saat persidangan dan saya sempat mendampingi Midah yang mendengarkan fakta-fakta persidangan dari majelis hakim tentang kisah tragis anaknya," papar Lele lugas.

PH Citra Visual Sinema diwakili oleh Niken menjelaskan bahwa Kota Banyuwangi juga ada dalam film dan PH sudah mendapatkan ijin dari Midah dan mengantongi hak membuat film ini.

Walau tentu saja dari beberapa pemberitaan ada film drama juga yang bercerita hal yang sama tapi Lele menandaskan nama asli korban atau almarhumah itu adalah Engeline tapi dalam film dipakai Angeline.

Redaksi menganggap bahwa film tetap saja ruang imajiner untuk menghibur dan menginspirasi penonton sehingga fakta tidak melulu mendominasi karena tetap saja fiksi, bukan ?


Bravo Untuk Film Angeline....