Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; Literasi Sastra Terindah Yang Divisualkan

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; Literasi Sastra Terindah Yang Divisualkan

XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kabarindo- Fiksi percintaan tulus dan setia sampai akhir dari perantau Bugis-Makassar ke Padang lalu ke Surabaya, Zainuddin (Herjunot Ali).

Sosok gadis Minang yang santun dan berakhlak mulia, Hayati (Pevita Pearce) menjadi semangat hidup sekaligus inspirasi Zainuddin walau tidak berjodoh karena telah diperisteri oleh Aziz (Reza Rahadian).

Kembali PH Ram Soraya pasca sukses dengan novel 5CM karya Donny Dhirgantoro memercayakan skenario dari novel klasik  karya seorang tokoh ulama besar Nusantara yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan sebutan HAMKA.

Beliau dilahirkan di Maninjau Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Jadi sehingga kini sudah seabad lebih lamanya. Untuk itu bagi kita generasi sekarang ini perlu mengenal lebih dekat sosok ulama besar tersebut sekaligus mengenang jasa yang telah diberikan kepada bangsa dan agama di tanah air.

Dalam bidang keilmuan dan penulisan beliau telah menulis buku-buku dari berbagai bidang. Mulai dari pendidikan, tasawuf, filsafat, tafsir, akhlak, sejarah roman dan lainnya. Diantara judul-judul bukunya yang banyak tersebut antara lain: Tasauf Modern, Filsafat Hidup, Lembaga hidup, Tafsir Al Azhar, Lembaga Budi, Ayahku, Sejarah Umat Islam, Revolusi Agama, Revolusi Pemikiran, Studi Islam, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Dibawah Lindungan Ka’bah dan Pandangan Hidup Muslim.

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang di shoot indah oleh DOP peraih piala Citra, Yudi Datau dan editing Sastha Sunu memiliki skenario kuat. Tiap dialog dengan adegan per adegan dibuat sangat mirip dan imajinatif seakan-akan penonton dipaksa masuk dalam frame sehingga durasi hampir 3 jam tak terasa hingga kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Hayati saat akhir hayatnya.

Film ini tidak hanya sangat jeli memetakan tiap detil kesusastraaan dengan mutu yang tak perlu diragukan lagi tapi detil wardrobe, kendaraan di jamannya sampai bangunan serta pernak-pernik yang ditonton sangat mirip sehingga menurut penulis Alm Buya Hamka pasti bangga dengan film ini.

Disisi yang lain apabila ada persoalan dari poster film, ada baiknya saat Anda menyimak pemaparan Sunil Soraya selaku sutradara sekaligus produser, " Semua detil setelah halanan 40-an atau 70-an ke atas saat ada dialog Khadijah adiknya Aziz yang akan membuat Hayati menjadi gadis yang lebih kota dari orang kota dengan baju-baju orang kota atau none Belanda dengan lisptik merah sampai-sampai memang membuat Zainuddin tidak mengenalinya saat Horse Race dipadang panjang," paparnya lugas saat menjawab pertanyaan seorang jurnalis yang tak puas dengan poster Pevita yang seharusnya memakai baju khas perempuan Minang.

Tapi tetap saja dari keseluruhan, DOP Yudi Datau tahu persis keindahan rumah gadang saat lembayung memerah atau di Subuh hari menjadikan film ini indah bertabur banyak dialog-dialog menyayat dan bermakna tentang loyalitas perantau Zainuddin terhadap budaya dan agamanya.

Patut ditonton oleh remaja dan keluarga sebagai literasi sastra visual yang terindah dari film dari karya Alm Buya Hamka sebelumnya yaitu Dibawah Lindungan Kabah, menurut redaksi kali ini PH Ram Soraya membuat masterpiece yang bisa jadi tidak bisa terulang 2-3 tahun yang lalu.


Pantas mendapat 7 Nominasi Piala Citra 2014 Mendatang...................!