Film Mencari Hilal; Sambangi Festival Film ASEAN

Film Mencari Hilal; Sambangi Festival Film ASEAN

Jakarta, Kabarindo- Kabar menggembirakan dari KBRI Bangkok.

Setelah sukses mewakili Indonesia pada  4 (empat) festival film internasional sebelumnya,  film “Mencari Hilal”  dengan judul Bahasa Inggris  The Cresent Moon  terus  menjajal dunia perfilman Asia. Film tersebut terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti RAAF, The 1st RU ASEAN Festival 2016, yang diselenggarakan oleh Universitas Ramkhamheng Bangkok pada tanggal 25-29 September 2016.

Sebelumnya, film Mencari Hilal telah mengikuti berbagai festival film internasional yaitu, International Premiere/Asian Future Competition Tokyo International Film Festival 2015, Hong Kong Asian Film Festival – China 2015, Sala Mindanaw International Film Festival – Philippines 2015, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival – Indonesia 2015.

Pada RAAF di Bangkok, semula Film Mencari Hilal hampir saja tidak lulus sensor oleh pihak panitia. Film tersebut dianggap terlalu sensitif bagi umat beragama di Bangkok, terutama Muslim. Maklum film tersebut mengkritisi Islam dengan mengungkap perbedaan sudut pandang, bahkan antara anggkota keluarga sekalipun, terhadap nilai-nilai Islami dan cara syiarnya. 
Namun demikian, setelah melalui pertimbangan matang Kurator dan panitia, film Mencari Hilal justru dipilih karena dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya duduk bersama dan dialog dalam penyelesaian perbedaan untuk perubahan menuju kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. “Film Mencari Hilal mampu memberikan gambaran mengenai dinamika kehidupan umat beragama di Indonesia, khususnya Umat Islam,” papar Panu Aree, kurator film pada Festival tersebut.

Pada dua hari pertama Festival, film Mencari Hilal mendapat perhatian yang cukup besar. Bioskop CF Cinema yang berlokasi di Mall Bangkapi  dan tempat pemutaran film di Universitas Ramkhaeng yang memiliki kapasitas 600 tempat duduk tersisi rata-rata sekitar 80%. 

Pada  diskusi panel yang bertema Censor, Islam, and Society, yang diselenggarakan setelah pemutaran pertama film Mencari Hilal, para pembicara menyimpulkan bahwa keberadaan film Mencari Hilal mencerminkan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan telah sangat terbuka. Panel diskusi menghadirkan 4 (empat) pembicara yaitu, Muhammad Ilyas Yahprung Phd, Dosen Senior Fakultas Ilmu Politik Universitas Ramkhamhaeng; Kong Ritdhee, pengkritik film/wartawan Bangkok Post; Panu Aree, Kurator Film; dan sang sutradara, Ismail Basbeth. 

Film yang disutradarai Ismail Basbeth tersebut terpilih mengikuti RAAF bersama 8 (delapan) buah judul film lain yang berasal dari negara-negara ASEAN yaitu From Bangkok to Mandalay (Thailand-Myanmar), Golden Slumbers (Kamboja), Unlucky Plaza (Singapura), SWAP (Filipina), NUOC2030 (Vietnam),  Ola Bola (Malaysia), dan My Teacher (Thailand-Laos).

Acara Pembukaan RAAF dihadiri oleh para pejabat tinggi Kementerian Kebudayaan dan Olah Raga Thailand, para duta besar negara-negara ASEAN, serta para pakar dan praktisi serta industri perfilman Thailand.
Pada kesempatan acara tersebut, Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, Ahmad Rusdi, menegaskan, bahwa semakin seringnya film Indonesia ikut berpartisipasi pada festival film di Thailand akan meningkatkan pemahaman yang baik oleh Masyarakat Thailand tentang Indonesia sehingga akan memperkuat pilar Masyarakat ASEAN, khususnya pilar Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN.

Sementara itu, sutradara Mencari Hilal, Ismail Basbeth, menyampaikan harapannya, agar melalui festival internasional seperti RAAF di Bangkok, kualitas film karya anak bangsa Indonesia semakin diakui dunia internasional sehingga dapat mendorong majunya industry perfilman Indonesia. Selanjutnya menurut sutradara yang lahir di Pekalongan tersebut, pemutaran film Indonesia di Thailand akan semakin meningkatkan persahabatan antara rakyat Thailand dan Indonesia.