Festival Peranakan Nusantara; Di Majapahit Surabaya

Festival Peranakan Nusantara; Di Majapahit Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Komunitas Peranakan Nusantara menggelar Festival Peranakan Nusantara di Balai Adika, Hotel Majapahit, Surabaya, pada Kamis (22/8) kemarin malam.

Dalam event tersebut ditampilkan pemutaran film, story telling, bazaar kuliner, pertunjukan musik, peragaan busana peranakan serta penyerahan penghargaan lomba karya tulis untuk pelajar dan mahasiswa.

Festival Peranakan Nusantara digelar untuk pertama kali. Menurut Budi Santosa, penggagas terbentuknya Komunitas Peranakan Nusantara, tujuannya untuk menghargai dan melestarikan budaya peranakan sebagai kekayaan warisan leluhur yang selayaknya diangkat sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Ia mengatakan, sangat sedikit orang yang mengerti asal usul dan sejarah budaya peranakan. Budaya ini merupakan hasil asimilasi dari berbagai pendatang dan pribumi berabad – abad lalu. Pengaruh budaya pendatang menjadi asimilasi tersebut bisa dilihat pada kuliner yang kita nikmati sehari - hari, bangunan di sekitar kita dan busana daerah Jawa.

Pada kuliner misalnya lontong cap gomeh dan siomay yang mendapat pengaruh dari Tiongkok, nasi kebuli yang mendapat pengaruh Arab. Kemudian banyak bangunan di Surabaya yang didirikan pada masa kolonial yang bergaya Belanda. Pada busana, ada sentuhan Tiongkok dan Eropa pada kebaya yang disebut Kebaya Encim. Ini tampak pada bordir atau sulam yang merupakan pengaruh Tiongkok dan renda – renda dari pengaruh Eropa yang dipadu kain batik pesisir bermotif flora dan fauna atau kehidupan sehari – hari yang lazim disebut Batik Kumpeni.

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk memelihara budaya peranakan yang membuat kita kaya dalam banyak hal yang indah,” ujar Budi.

Ia menuturkan tentang beragam pengaruh budaya pendatang dan asal – usulnya. Ia mengatakan, sejarah peranakan dimulai pada 2.500 SM. Budi juga merujuk pada zaman kejayaan Majapahit yang berkuasa mulai dari Madagaskar hingga Polynesia di Samudra Pasifik. Ia menemukan ada persamaan kata – kata yang digunakan hingga kini di sana.

Tentang masuknya budaya Tiongkok ke nusantara, ia merujuk pada migrasi orang – orang Tiongkok pada abad 14 ke Kalimantan untuk mencari emas. Mereka kemudian mendirikan Republik Lanfang yang menjadi bukti keberadaan mereka.

Pengaruh asing juga merasuki Bahasa Indonesia. Menurut Budi, Bahasa Indonesia merupakan campuran Bahasa Melayu yang menyerap unsur - unsur dari Bahasa Cina, Arab dan lainnya.

“Beragam budaya Nusantara selayaknya kita lestarikan sebagai kekayaan bangsa Indonesia,” ujar Budi.