Festival Majapahit Internasional; Gegap Gempita

Festival Majapahit Internasional; Gegap Gempita

Pandaan, Pasuruan, Kabarindo- Pergelaran Festival Majapahit Internasional pada hari pertama Rabu (11/9) kemarin malam berlangsung meriah.

Para tamu undangan dan ribuan masyarakat sekitar memenuhi amphiteater Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Pasuruan, tempat berlangsungnya event seni tari akbar tersebut. Mereka antusias menyaksikan acara yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim ini hingga usai.

Masyarakat tak menyia – nyiakan kesempatan untuk menyaksikan event yang terbuka untuk umum dan tak dipungut biaya ini. Animo mereka sangat tinggi terhadap pergelaran seni budaya yang mulai langka ditampilkan kepada publik. Perhatian mereka terpusat ke panggung raksasa tempat digelarnya sendratari dari negara – negara peserta festival.

Acara dibuka oleh Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, disusul tari penyambutan tamu, Tari Bedoyo. Panggung kemudian diisi oleh penampilan tim kesenian dari India, Kamboja dan Indonesia yang menghibur penonton pada hari pertama.

Tim kesenian dari India menampilkan sendratari The Svayamvara for Sita (Sayembara Mempersunting Sinta) yang diambil dari kisah Ramayana. Selanjutnya delegasi Kamboja menampilkan sendratari The Coronation of Bharata atau Penobatan Bharata.

Pementasan diakhiri dengan penampilan  Surya Majapahit: Gayatri Rajapatni oleh para penari dari STKW Surabaya. Sendratari ini mengangkat nilai - nilai kebesaran Kerajaan Majapahit. Gayatri sebagai tokoh sentral dalam mengawal gagasan pembentukan Nusantara. Ratu Tribuana Tunggadewi, putri Gayatri, kemudian merintis penyatuan Nusantara dibantu

Mahapatih Gajahmada dengan sumpahnya Amukti Palapa. Penyatuan Nusantara ini terwujud dalam pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang membawa Majapahit ke masa kejayaan.

Pada hari kedua, Kamis (12/9) malam ini, panggung akan diisi oleh peserta dari Myanmar, Singapura, Malaysia dan Laos. Tim kesenian Myanmar menyuguhkan sendratari Golden Deer: Kidnapping of Sita (Kijang Emas: Penculikan Sinta). Dari Singapura, ditampilkan Jatayu’s Attempt to Rescue Sita yaitu upaya Jatayu, raja para burung, untuk membantu membebaskan Dewi Sinta dari kekuasaan Rahwana yang menculiknya. Peserta dari Malaysia menyuguhkan Building the Brigde for Crossing to Langka atau Membangun Jembatan menuju Langka, sedangkan tim kesenian dari Laos menampilkan Vibhisan’s Advice and Exile (Saran dan Pengasingan Wibisana).

Pementasan hari ketiga pada Jumat (13/9) malam akan dimeriahkan oleh tim kesenian dari Filipina, Thailand dan Indonesia. Filipina menyuguhkan sendratari The Birth of Hanoman (Kelahiran Hanoman), sedangkan Thailand mementaskan The Big War Ram vs Ravana (Perang Besar Rama melawan Rahwana). Acara akan ditutup dengan penampilan para penari dari ISI Denpasar yang menyuguhkan sendratari Kepandung Dewi Sinta.