FOLIAGE; Kembalinya Warna Biyan

FOLIAGE; Kembalinya Warna Biyan

Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, Kabarindo- Biyan membayangkan itu semua lalu melukiskannya ke dalam 90 set koleksinya.

 Tahun 2011 silam, Biyan Wanaatmadja, atau yang lebih sering disapa Biyan melansir 100 koleksi bernuansa oriental yang begitu kental, ia menamainya “The Orient Revisited”.

Interpretasi kekayaan budaya Cina yang turut jadi bagian penting dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia ia leburkan bersama keindahan alam yang terlihat jelas melalui pengaplikasian motif pada tiap potong busananya.

Kini, setelah satu tahun berlalu dari pagelaran busana tunggalnya “The Orient Revisited” yang meninggalkan kesan begitu mendalam, Biyan kembali mempersembahkan ritual pagelaran busana tahunannya.

“FOLIAGE” adalah tema yang dipilih Biyan untuk pagelaran busananya kali ini. Pada “FOLIAGE” Biyan terlihat masih sangat nyaman bermain-main dengan eksplorasi keindahan alam yang ada di sekelilingnya. Ia seolah membayangkan sebuah pelarian yang indah dan menyejukkan, dimana ia berada dalam suatu tempat penuh kumpulan dedaunan hiaju yang rimbun atau bentangan ladang yang luas dipenuhi bunga-bunga liar bermekaran. 

Dengan ciri khas ready-to-wear yang sangat kental dalam koleksinya, Biyan meramu beberapa aspek mendasar yang menjadi nilai tambah dalam setiap koleksi yang ia tampilkan.

Mudah dipakai serta mudah dipadupadankan, nyaman namun tetap mengedepankan sisi gaya dan anggun sekaligus berkarakter kuat, ia rekatkan menjadi satu kesatuan koleksi busana yang memiliki daya tarik tinggi.

Hal ini juga merupakan sebuah pendekatan yang lebih kasual dan santai terhadap kemewahan yang diolah tanpa kehilangan sintesa modernitas, keanggunan, dan ketaklekangan. Menurut Biyan, semua yang ia hadirkan kali ini seakan menjadi jawaban atas kerinduan perempuan masa kini yang ingin menampilkan sisi pribadi yang apa adanya.

Tak kurang dari 90 set busana dihadirkan Biyan dalam pagelaran busananya. Ornamen payet yang dirangkaikan secara detil menjadi bunga atau dedaunan yang memenuhi beberapa bagian busana serta motif print seperti bunga-bunga kecil, daun, ilalang, sekilas mengingatkan terhadap koleksi Biyan terdahulu.

Siluet busana seperti atasan yang ramping dan potongan bawah yang bervolume, ataupun sebaliknya seperti blus berstuktur kaku dengan bawahan yang ramping, jaket berstuktur kaku yang dipadankan dengan rok lebar bervolume ringan, kesemuanya itu menampilkan sisi feminin perempuan sesungguhnya, bersamaan dengan sisi maskulin, bahkan menyajikannya dengan aspek innocence secara berbarengan. 

Sementara, dalam sisi pemilihan warna, Biyan menyelaraskan penggunaan warna dalam koleksinya dengan konsep keindahan alam yang dipilihnya, keindahan alam yang terkesan begitu lembut dan menyejukkan. Warna hijau dari rerumputan, biru langit, putih gading, abu-abu, hitam, merah dan orange pucat, serta emas adalah warna-warna yang dipilih Biyan dalam rangkaian koleksinya. 

Selain itu, tata artistik panggung lintasan catwalk layaknya Victorian conservatory house yang terhampar rimbun, terpencil, dan megah sepintas mengingatkan pada nostalgia film Great Expectations yang merupakan adaptasi novel karya penulis Inggris, Charles Dickens.