FFI 2013; Siap Mempertemukan Semua Kepentingan Film Nasional

FFI 2013; Siap Mempertemukan Semua Kepentingan Film Nasional

Grand Indonesia, Jakarta, Kabarindo- Festival Film Indonesia identik dengan piala supremasinya , Piala Citra sejak tahun 1955.

Tentu saja kita semua bertanya-tanya siapa lagi yang menjadi sutradara terbaik setelah Hanung Bramantyo (Mengejar Mas Mas) tahun 2007, Mouly Surya (Fiksi) tahun 2008, Aria Kusumadewa (Identitas) tahun 2009, Benni Setiawan (3 Hati, 2 Dunia 1 Cinta) tahun 2010, Ifa Isfansyah (Sang Penari) tahun 2011 dan tahun lalu, 2012 menjadi milik Herwin Novianto (Tanah Surga......Katanya).

Saat redaksi berjumpa dengan Roy Marten sebagai Ketua Bidang Humas & Publikasi FFI 2013. Aktor senior tersebut memastikan semua pihak baik aktor muda maupun aktris senior sekalipun saat pawai artis nanti sekaligus pembacaan nominasi sehingga aktor Iko Uwais atau Joe Taslim pun harus bisa dilibatkan ke ajang FFI 2013 mendatang.

"FFI ini punya nilai sejarah dengan pialanya Citra yang sama dengan Piala Oscar dan Indonesia harus menghidupkan KineForum atau Komunitas Penonton dari bangku sekolah sampai profesional sehingga suatu saat FFI akan sama dengan Oscar yang menilai adalah academynya atau masyarakatnya sendiri," jelas Roy mantap sambil mengingatkan bahwa tahun ini ada kesepakatan dengan pihak 21Cineplex bahwa film pemenang akan diputar ulang sesuai dengan waktu dan jumlah copy saat film tersebut pertama di putar.

Sejarah FFI Sepanjang Tahun:
FFI pertama kali diselenggarakan pada 1955. Digagas oleh H. Djamaluddin Malik sebagai upaya menarik perhatian masyarakat bahwa kualitas film Indonesia tidak kalah baiknya dengan film asing. Dengan kata lain, tujuan penyelenggaraan FFI adalah menumbuhkan apresiasi terhadap film Indonesia dan mengevaluasi film produksi dalam negeri selama setahun.

Sejarah mencatat, penyelenggaraan FFI sepanjang 1973-1991 selalu menjadi pesta rakyat yang gegap gempita. Terutama FFI 1983-1985 yang digelar di berbagai daerah di luar Jakarta, sebagai strategi buat semakin mendekatkan artis dengan penontonnya. Penting juga dicatat bahwa dalam periode itu film-film Indonesia merajai bioskop yang tersebar sampai ke tingkat kecamatan. Puncaknya, pada 1990 tercatat ada 2.600 bioskop dengan 2.853 layar di seluruh Indonesia, dan jumlah penonton dalam setahun mencapai 312 juta.

Dominasi film Indonesia dan pada akhirnya juga kesakralan FFI sebagai barometer kreativitas dan estetika pun berakhir bersamaan dengan runtuhnya perfilman nasional. Sepanjang 1993-2003 nyaris tidak ada lagi film Indonesia di bioskop. Selama sepuluh tahun itu praktis aktivitas produksi film terhenti, bioskop satu per satu gulung tikar, dan citra film Indonesia di mata masyarakat semakin terpuruk akibat munculnya film-film beraroma seks dan mistik, yang masih dibuat oleh beberapa produser sebagai jalan pintas menyiasati kelesuan pasar. Akibatnya, mulai 1992 penyelenggaraan FFI juga terhenti karena tidak ada lagi film yang layak dinilai.

11 Desember 2004 harus dicatat sebagai hari bersejarah dalam industri perfilman Indonesia. Malam itu, di salah satu wahana Dunia Fantasi Ancol, FFI akhirnya diselenggarakan lagi. Film-film yang dinilai adalah produksi lima tahun terakhir (2000-2004). Yang sangat menarik, hampir seluruhnya dibuat oleh pekerja-pekerja film muda yang tidak memiliki kaitan dengan generasi FFI 1973-1991. FFI berikutnya (2005) bisa dianggap pembuktian atas kebangkitan kembali perfilman nasional. Tercatat 27 film mengikuti kompetisi tahun itu. Jumlah tersebut memperlihatkan peningkatan kuantitas yang menggembirakan karena dalam FFI 2004, yang diikuti film-film produksi 2000-2004, hanya diikuti 35 film. Tapi kebangkitan kembali FFI terganggu lagi, kali ini dengan insiden yang terjadi dalam FFI 2006. Penyebabnya, Film Terbaik Ekskul karya Nayato Fio Nuala digugat oleh kelompok pekerja film muda yang menamakan diri Masyarakat Film Indonesia (MFI), karena menggunakan musik jiplakan.

Akhirnya, pada 22 Juni 2007 BBPN menganulir keputusan Dewan Juri dengan mencabut penghargaan untuk Ekskul dan Nayato Fio Nuala.


Bersama Kita Bisa - Majukan Film Indonesia.....................!