Ekowisata 2016; Lereng Merapi Jadi Subur

Ekowisata 2016; Lereng Merapi Jadi Subur

Sleman, Kabarindo- Taman Nasional Gunung Merapi mulai melakukan penataan terhadap potensi ekowisata di lereng Gunung Merapi bagian barat.

"Potensi-potensi ekowisata yang memungkinkan untuk dikembangkan di lereng Gunung Merapi bagian barat, di antaranya ternak kambing etawa, wisata minat khusus outbound, hingga berbagai jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi," kata Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Widya Kridaningsih di Sleman, Yogyakarta, Minggu.

Menurut Widya, penataan potensi ekowisata di lereng Gunung Merapi sudah mulai dilakukan pada tahun 2015 hingga saat ini.

"Sebenarnya untuk master plan sudah ada sejak lama. Namun, baru bisa dilakukan saat ini karena terjadi adanya erupsi Gunung Merapi 2010 yang besar," katanya.

Pascaerupsi Merapi 2010, pihaknya memprioritaskan tempat-tempat yang sering dikunjungi wisatawan terlebih dahulu dalam hal penataan.

"Misalnya, Telaga Nirmala dan Muncar di Kaliurang, Pakem, Sleman, serta jalur pendakian Merapi melalui Selo, Boyolali, Jawa Tengah," katanya.

Widya mengatakan bahwa sekarang yang mulai dibenahi dan ditata adalah lereng Gunung Merapi di sisi barat karena di lokasi ini masih banyak potensi yang belum digali, dalam hal ekowisata.

"Dimulai dari peternakan kambing etawa, hutan pinus, anggrek, bambu, teh, dan juga kopi," katanya.

Yang masih menjadi kendala saat ini, menurut dia, adalah kebutuhan airnya karena ketika dibuka untuk wisata massal, pasokan air bersih belum memadai.

"Potensinya banyak, hanya kendala pada air saja kalau dibuka wisata massal," katanya.

Pengelola perkebunan teh lereng Merapi Suwaji (57) warga Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman mengatakan bahwa sebagai pengelola teh asli Turgo dirinya mengaku siap jika dikembangkan sebagai ekowisata.

"Kami sebenarnya sudah siap jika banyak wisatawan yang datang ke perkebunan dan pengolahan teh Merapi," katanya.

Ia mengatakan bahwa saat ini teh asli Turgo hanya sebatas dijual ke pasar tradisional, atau juga memenuhi permintaan pemesan.

"Namun, selain teh, juga mulai dikembangkan kopi di wilayah Turgo ini," katanya seperti dilansir dari laman antaranews.