Dosen ITS; Ciptakan Alat Deteksi Halal Haram

Dosen ITS; Ciptakan Alat Deteksi Halal Haram

Surabaya, Kabarindo- Selama ini berkembang anggapan di masyarakat untuk memeriksakan halal tidaknya makanan atau obat butuh biaya mahal dan berbelit-belit.

Namun anggapan ini dipatahkan Dr. rer.nat. Fredy Kurniawan, M.Si., dosen jurusan kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Butuh waktu agak lama dan proses panjang untuk memperoleh sertifikat halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena sertifikat ini bukan hanya menyangkut ada tidaknya unsur babi, melainkan juga bagaimana tata cara proses pembuatan dan pengangkutannya,” ujarnya pada Selasa (29/3/2016).

Itu sebabnya, yang terlibat di pusat kajian halal ITS bukan hanya para pakar dan dosen di bidang kimia analitik, namun juga dosen dari berbagai disiplin ilmu termasuk yang membidangi transportasi pengangkutan barang atau supply chain management.

“ITS hanya sebagai lembaga pemeriksa halal (LPH) sebagaimana yang diamanatkan dalam UU nomor 33/2014 pasal 12 tentang Jaminan Produk Halal,” ujar Fredy, Ketua ITS Halal Center sebagai cikal bakal berdirinya Pusat Kajian Halal ITS.

Ia menciptakan alat berbasis Quartz Crystal Microbalance (QCM) sebagai deteksi awal untuk mengetahui halal tidaknya makanan, obat serta kosmetik. Fredy menjelaskan, alat ini merupakan modifikasi dari sensor SRS QCM 200 yang dihubungkan dengan personal computer (PC) dibantu dengan sensor untuk mendeteksi protein babi, serta tambahan alat baca.

“Untuk memodifikasi SRS QCM 200 sehingga mudah dibaca dan terlihat di  layar komputer tidak sampai menghabiskan dana Rp. 20 juta,” kata dosen kelahiran Cepu, 28 April 1974 dan doktor lulusan Regensburg University, Jerman ini.

Menurut Fredy, sebetulnya jika pemeriksaan kehalalan itu hanya pada kandungan ada tidaknya unsur gelatin babi dalam makanan, obat atau kosmetik, alat tersebut sudah bisa mendeteksi awal apakah haram atau halal.
Cara pengoperasiannya sederhana, bisa dilakukan oleh orang awam dan langsung bisa diketahui hasilnya. Bahan yang akan diuji oleh crystal holder dimasukkan ke dalam beaker glass, lalu dihubungkan dengan SRS QCM 200 yang sudah terangkai dan terhubung dengan komputer. Di layar komputer akan terbaca sinyal yang menunjukkan bahan tersebut mengandung unsur babi atau tidak. Artinya, haram atau halal.

“Untuk mendeteksi hanya butuh kurang dari 5 menit, sudah bisa dilihat hasilnya,” kata Fredy yang telah mendaftarkan enam paten untuk bermacam pengukuran di bidang kimia.

Bentuk spektrum protein yang terkandung dalam daging babi dan sapi sebetulnya identik dan hampir tidak bisa dibedakan, naamun gelatin dari hewan ini dan turunannya akan terlihat berbeda pada pemeriksaan menggunakan QCM. Dalam pemeriksaan terkecil sekali pun (100 ppm), pada daging babi, spektrumnya bergerak ke atas. Sedangkan pada daging sapi, spektrumnya bergerak ke bawah.












 



 
 



teksi Halal Haram