Diaspora Indonesia; Jadi Kekuatan Baru Dalam Pembangunan

Diaspora Indonesia; Jadi Kekuatan Baru Dalam Pembangunan

Jakarta, Kabarindo- Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Muhammad Lutfi awal pekan kemarin.

Ia mengatakan bahwa diaspora Indonesia dapat menjadi kekuatan dalam mendorong ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS). Hal ini disampaikannya di hadapan diaspora Indonesia yang bermukim di AS dan berkumpul dalam acara tahunan 'Indonesian Diaspora National Convention and Indo Fest USA' yang pada tahun ini diselenggarakan pada 1-3 Agustus 2014 di New Orleans, AS.

Mendag juga menekankan perlunya diaspora untuk bersatu dan mengambil manfaat dari negara di mana mereka tinggal untuk kepentingan masing-masing individu, komunitas, dan Indonesia secara keseluruhan. "Secara langsung dan tidak langsung, diaspora sesungguhnya telah memberikan manfaat kepada bangsa Indonesia, namun untuk dapat mengoptimalkan hasilnya diperlukan cara-cara inovatif," tegasnya. Menurut Mendag, forum diaspora yang diselenggarakan kali ini merupakan wadah yang sangat efektif bagi seluruh diaspora Indonesia untuk saling berbagi informasi, pengalaman, dan memperluas jaringan bisnis. "Acara pertemuan seperti ini juga dapat menginspirasi warga Indonesia lainnya untuk menjadi diaspora atau menjalin kerjasama bisnis dengan diaspora lainnya untuk mengembangkan usahanya sendiri dan pada akhirnya perekonomian Indonesia," imbuhnya. Diaspora Indonesia di seluruh dunia saat ini berjumlah sekitar 4,6-6 juta orang dan sebanyak 250 ribu di antaranya bermukim di AS. Jumlah tersebut masih jauh lebih kecil dari jumlah diaspora Tiongkok yang mencapai 45,2 juta; India 24 juta; Azerbaijani 9 juta; dan Korea Selatan 6,2 juta. Indonesia saat ini dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat masih mengalami kesenjangan pemerataan pendapatan. Hal tersebut dapat diatasi dengan peningkatan pembangunan infrastruktur dan penyediaan sumber energi yang memadai sehingga dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan sekaligus pemerataan pendapatan di berbagai daerah. Mendag meyakini bahwa diaspora akan membantu mendorong perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Indonesia di negara dimana mereka tinggal. "Sehingga semakin banyak jumlah diaspora, maka akan semakin besar juga potensi pengembangan hubungan ekonomi, sosial dan budaya antara kedua negara, dalam konteks ini Indonesia-AS," jelasnya. Perdagangan bilateral Indonesia dan AS menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2013 perdagangan bilateral Indonesia dan AS meningkat 4,89% dari tahun sebelumnya hingga mencapai USD 28 miliar. Pada tahun yang sama Indonesia mengalami surplus hingga USD 9,7 miliar. Khusus untuk produk nonmigas, ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2013 mencapai USD 18 miliar atau meningkat 1,88% dibandingkan tahun 2012.
Sementara itu, pada periode Januari-Mei 2014, ekspor Indonesia ke AS senilai USD 12 miliar atau meningkat 3,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan untuk ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada periode Januari-Mei 2014 menunjukan tren yang positif dengan nilai USD 7,6 miliar atau meningkat 1,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Indonesia-AS telah menetapkan target perdagangan antara keduanya sebesar USD 30 miliar pada tahun 2015. Upaya ini tentunya perlu dukungan dari diaspora Indonesia di AS dengan tentunya bekerja sama dengan Atase Perdagangan di Washington D.C., Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di Chicago dan Los Angeles," ungkapnya. AS merupakan perekonomian dan pasar terbesar di dunia. Selain itu, AS adalah motor penggerak pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Oleh sebab itu, banyak imigran yang menjadikan AS sebagai tujuan utama tempat tinggal. Mendag memberikan semangat kepada seluruh diaspora Indonesia untuk mencapai 'Impian Amerika' (American Dream) mereka dengan cara menetapkan target tinggi, gigih berusaha, dan membangun jejaring kerja. Terakhir, Mendag mengajak seluruh diaspora untuk saling mendukung dan melibatkan pelaku usaha di Indonesia dalam melakukan bisnis, membeli produk Indonesia, berinvestasi di Indonesia, dan secara rutin berkunjung ke Indonesia untuk membantu jalannya roda perekonomian bangsa. Selain Mendag, acara Indonesian Diaspora National Convention and Indo Fest USA ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal, dan Dubes RI untuk Indonesia Budi Bowoleksono. Pada forum ini diselenggarakan berbagai seminar dan salah satunya akan disampaikan oleh Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ni Made Ayu Marthini, dengan judul Trade Opportunities: How to become an agent for Indonesian products. Pada kesempatan ini Kemendag juga melakukan misi dagang dengan membawa sembilan perusahaan makanan dan minuman Indonesia untuk melakukan promosi produk mereka, sekaligus membangun jejaring kerja dengan diaspora Indonesia di AS. Kesepuluh perusahaan tersebut adalah Indokom Group, Baba Rafi Indonesia, Mega Abdi Nusa, Saro Indonesia, Pondan Pangan Makmur Indonesia, Mannaf Mandiri Margurite Nougat, Indofood, dan Sambal 3Anoa. Produk-produk yang ditampilkan antara lain sambal, makanan ringan, mi instan, cokelat, kopi, udang, dan bumbu-bumbu lainnya. Selain melakukan promosi di acara diaspora, perusahaan makanan dan minuman tersebut rencananya akan berpartisipasi dalam Food Service and Hospitality Expo di Louisiana, AS. Selain itu, juga dilakukan kegiatan one on one meeting antara peserta misi dagang dengan distributor/importir produk makanan minuman, antara lain Truong Enterprise dari Chicago dan Global Food Ingredient Company dari Los Angeles.