DevOps; Jadi Inovasi Tingkatkan Perangkat Lunak

DevOps; Jadi Inovasi Tingkatkan Perangkat Lunak

Jakarta, Kabarindo- Pengguna DevOps mengalami peningkatan 22 persen dalam penggunaan software/pelayanan mereka dan pengurangan 18 persen dalam biaya pengembangan dan operasional.

Perusahaan di seluruh Asia Pasifik mampu lebih berinovasi aplikasi perangkat lunak dan pelayanan sebanyak 19 persen dengan menggunakan DevOps, menurut sebuah studi global yang diadakan oleh CA Technologies (NASDAQ: CA). Sebuah studi TechInsights Report: What Smart Businesses Know About DevOps, mengungkapkan bahwa DevOps telah meningkatkan jumlah pelanggan perusahaan di wilayah tersebut dalam menggunakan software dan layanan mereka sebanyak 22 persen, pada waktu yang bersamaan DevOps dapat mengurangi pengeluaran dalam pengembangan dan operasional sebanyak 18 persen. Pada umumnya (sebanyak 59 persen) perusahaan berniat untuk mengambil sumber daya baru dengan kemampuan tertentu yang dibutuhkan untuk beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari implementasi sistem DevOps mereka. Hal ini sebanding dengan 33 persen di Eropa.

DevOps adalah sebuah sistem yang dapat membantu kerjasama antara para tim yang membuat dan menguji aplikasi (Dev) dengan bagian yang melakukan pemeliharaan di lingkungan produksi (Ops). Vanson Bourne melakukan survei terhadap 1.300 pengambil keputusan industri TI di seluruh dunia di enam negara Asia Pasifik (Australia, China, India, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan) dan sebelas negara lainnya di seluruh dunia atas nama CA Technologies untuk mempelajari kesadaran global dan adopsi DevOps. 

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik kini melihat kelebihan dan manfaat dari DevOps yang lain. Hampir semua responden (sekitar 98 persen) melihat terjadinya peningkatan frekuensi penyebaran software/pelayanan mereka dan 95 persen melihat bahwa telah terjadi peningkatan kerja sama antar departemen. DevOps mendongkrak rata-rata 20 persen peningkatan pendapatan dan mengangkat 21 persen dalam kualitas aplikasi untuk perusahaan di lintas negara. Selain itu, sistem yang ada juga dapat membantu mereka dalam efisiensi waktu untuk memasarkan software atau layanan sebanyak 21 persen.

Tidak heran jika 70 persen atau 73 persen responden baik yang telah ataupun yang sedang merencanakan untuk menggunakan strategi DevOps memahami bahwa saat ini semakin besar kebutuhan untuk menggunakan strategi DevOps daripada sebelumnya.

“Dalam dunia aplikasi mobile dan ulasan konsumen online saat ini, perusahaan berada di bawah tekanan besar untuk mengirimkan aplikasi dengan kualitas terbaik yang lebih cepat dari pada sebelumnya”, jelas Sumal Karunanayake, Vice President, Application Delivery & DevOps, Asia Pacific & Japan, CA Technologies. “Perusahaan yang telah beroperasi lebih dari 20-30 tahun, menghadapi tantangan besar karena warisan sistem yang telah turun temurun. Mereka yang bersedia untuk menjalani transformasi internal dapat memenangkan persaingan di pasar yang cepat berubah.”

Laporan juga menjelaskan bahwa kesadaran yang berhubungan dengan strategi DevOps telah meningkat- terutama sebagai sarana untuk memahami permintaan pelanggan secara lebih baik dan meningkatkan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.

Tiga perempat (76 persen) dari perusahaan Asia Pasifik berencana untuk berinvestasi lebih banyak dalam pelatihan untuk personil pengembangan dan operasional, dan 5 persen untuk berinvestasi dalam alat-alat baru.

Laporan ini menunjukkan bahwa fokus untuk strategi DevOps terbagi hampir sama antara bisnis dan TI. Sebagai contoh, 48 persen akan mengukur keberhasilan terutama dengan melihat pada faktor bisnis eksternal, seperti peningkatan pendapatan, percepatan waktu ke pasar dan peningkatan posisi kompetitif. Sedangkan 42 persen akan mengukur tingkat keberhasilan dengan melihat pada faktor internal, terutama seperti biaya yang lebih rendah, lebih sedikit bug dan peningkatan efisiensi.

Pengetahuan dan keterampilan yang paling dibutuhkan dalam pengembangan dan operasi agar berhasil menerapkan strategi DevOps adalah pengetahuan tentang keseluruhan prioritas, strategi dan metrik bisnis (dikutip oleh 55 persen responden-angka tertinggi di mana saja di dunia), diikuti oleh pengetahuan tentang proses bisnis saat ini dan bagaimana mereka bekerja (42 persen).

"CA Technologies menjadi pemimpin dalam mengidentifikasi manfaat dan tantangan penggunaan DevOps," kata Karunanayake. "Laporan ini menggambarkan secara jelas tentang bagaimana perusahaan dapat berharap akan sebuah keberhasilan dengan menggunakan strategi baru dan mengubah organisasi TI mereka. DevOps berkembang dari teori menjadi pendekatan strategis yang penting untuk semua bisnis. "

Penemuan lainnya adalah:
• Tekanan bisnis yang mendorong permintaan DevOps:
o Sekitar 45 persen perusahaan berada di bawah tekanan bisnis untuk merilis aplikasi lebih cepat untuk memenuhi permintaan pelanggan atau memasuki pasar baru, sedangkan 43 persen beralih ke DevOps untuk mencapai kolaborasi dan 43 persen menggunakan sistem untuk mencapai penyebaran simultan di platform yang berbeda.

• Potensi hambatan untuk peluncuran DevOps sangat luas, meskipun banyak yang berhubungan dengan manusia dan proses yang lebih mengarah ke teknologi:

o kendala utama adalah kompleksitas organisasi, dikutip oleh 31 persen: terlalu banyak orang atau departemen yang terlibat, terlalu banyak saling ketergantungan. Hal ini diikuti oleh ketidak jelasan peran dan tanggung jawab seluruh pengembangan dan operasi (27 persen), diikuti oleh masalah keamanan atau kepatuhan (25 persen).