Deklarasi Melawan Terorisme; Bergema Di Bumi Hasanuddin

Deklarasi Melawan Terorisme; Bergema Di Bumi Hasanuddin

Makassar, Kabarindo- Demi menciptakan kedamaian dan rasa aman bagi kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), organisasi kemasyarakatan, keagamaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh perempuan mencetuskan deklarasi bersama untuk melawan segala bentuk aksi terorisme.

Deklarasi itu berisi enam butir komitmen, dibaca dan ditandatangani bersama pada acara siaturahmi dengan
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo, Panglima Kodam (Pangdam) VII/Wirabuana, Mayjen TNI Agus Suryabakti, Wakapolda Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Brigjen Pol Gatot Adi Pramono di Baruga Sangianseri, Gubernuran, Makassar, Sulsel, Minggu (17/1) malam.

Deklarasi ditandatangani organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, An-Nadzir, Front Pembela Islam, Dewan Masjid Indonesia, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, FPBI, Forum Umat Islam, Wahdah Islamiyah. Tokoh agama Islam, Protestan, Katolik, Budha, Hindu, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan.

Komitmen tersebut adalah: pertama, Menjaga stabilitas dan keadaan Sulsel. Kedua, mendukung upaya seluruh komponen bangsa untuk melaksanakan berbagai hal terkecil sekalipun untuk mewujudkan kedamaian di Sulsel. Ketiga, mendukung pemerintah sepenuhnya untuk memastikan Sulsel terbebas dari rasa takut yang bisa mengancam perekonomian daerah.
Keempat, mengajak masyarakat media untuk selektif dan hati-hati dalam melakukan pemberitaan agar tidak memperkeruh keadaan. Kelima, mengajak seluruh komponen umat beragama untuk tetap menjaga kerukunan dan harmonisasi antar umat beragama.

Keenam, secara tegas mendukung aparat keamanan dalam melakukan segala upaya untuk memberantas segala tondakan yang mengarah pada anarkisme, radikalisme dan terorisme.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, komitmen ini dibuat untuk mencegah tumbuhnya radikalisme anarkisme dan terorisme yang tidak hanya menjadi tanggung jawab gubernur, Pangdam dan Kapolda, tapi itu tanggung jawab bersama demi hari esok Sulsel yang lebih baik.

"Bayangkan, bagaimana menderitanya kehidupan masyarakat di negara yang sedang dilanda konflik. Bersyukurlah Sulsel ini aman dan itu yang perlu dijaga dan dipelihara bersama," katanya.

Menurutnya, kemiskinan kadang jadi "Kambing Hitam" munculnya terorisme, Anak-anak yang menjadi pengantin (pelaku yang membawa bom bunuh diri) direkrut karena lilitan kemiskinan. Meskipun demikian, hal ini tidak sepenuhnya benar sebab banyak juga orang yang hidupnya miskin tapi tidak menjadi teroris.

Syahrul mengingatkan, perlu diwaspadai bersama yakni munculnya pemahaman yang keliru tentang agama, virus ajaran itu menyebar luas lewat internet yang tak terbendung,

"Selain pengaruh lewat internet, faham radikal berpotensi muncul dari lembaga atau pondok pesantren yang menumbuhkan faham itu, di Sulsel tidak boleh ada seperti itu, laporkan segera jika ada yang mencurigakan," ujarnya.

Syahrul berencana akan mengumpulkan seluruh ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warha ( RW), 22 Januari. Pertemuan ini untuk membahas rencana agenda lanjutan.

Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Agus Suryabakti, meminta organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda agar rapatkan barisan menjaga Sulawesi. Tanpa rasa aman tidak akan bisa berjalan pembangunan, katanya

Pangdam juga mengatakan sangat terkesan dengan nilai budaya di Sulsel, karakter masyarakatnya keras tetapi hatinya lembut seperti dilansir dari laman antaranews.