Danamon Punya Laba Bersih Rp 2,5 Triliun; Sembilan Bulan Pertama 2016

Danamon Punya Laba Bersih Rp 2,5 Triliun; Sembilan Bulan Pertama 2016

Jakarta, Kabarindo- Pekan ini, PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. (“Danamon”) mengumumkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 2,5 triliun untuk sembilan bulan pertama tahun 2016. Hal ini merupakan pertumbuhan 33% dibandingkan Rp 1,8 triliun pada periode yang sama tahun 2015.

“Danamon berhasil dalam meningkatkan produktivitas dalam iklim perekonomian lemah yang membatasi permintaan kredit. Ketangguhan Bank adalah hasil dari pondasi bisnis yang kuat dan inisiatif-inisiatif transformasi yang diterapkan tahun lalu. Kami juga mengelola biaya operasional dan biaya kredit (cost of credit) lebih baik ketimbang tahun lalu,” kata Chief Financial Officer dan Direktur Danamon, Vera Eve Lim.                                                              

Vera menambahkan bahwa Danamon membukukan pertumbuhan pendapatan nonbunga atau fee-based income sebesar 9% sebagai kontributor laba bersih dalam sembilan bulan pertama tahun 2016. “Pertumbuhan pada fee-based income merupakan hasil dari meningkatnya upaya Danamon dalam menghadirkan nilai tambah pada produk dan layanannya.”

Kenaikan Laba cerminkan peningkatan efisiensi

Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) tumbuh 13% menjadi Rp 6,8 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dibandingkan setahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) di sembilan bulan pertama tahun 2016 tercatat sebesar 49,1% dibandingkan 53,7% di periode yang sama tahun 2015. Hal ini didorong oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional turun 6% dibandingkan satu tahun sebelumnya menjadi Rp 6,5 triliun.

Pertumbuhan pada segmen UKM pada saat lemahnya tingkat permintaan kredit. Kredit pada segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tumbuh 6% menjadi Rp 23,8 triliun dari Rp 22,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, portofolio kredit Wholesale Banking, yang terdiri dari kredit segmen komersial dan korporat serta marketable securities terkait trade finance, berada pada tingkat yang sama dibandingkan tahun lalu.

Kredit kepada usaha mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) tercatat sebesar Rp 11,4 triliun atau turun 29% dari tahun lalu.

Adira Finance tetap terdampak dari penjualan industri otomotif yang lemah dan membukukan penurunan pembiayaan sebesar 8% secara year-on-year menjadi Rp 43,8 triliun pada akhir September 2016.

Secara keseluruhan, kredit Danamon turun 9% menjadi Rp 121,6 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dari Rp 133,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Likuiditas yang cukup

Pada akhir September 2016, giro dan tabungan atau CASA turun 13% menjadi Rp 45,6 triliun dari Rp 52,6 triliun di tahun sebelumnya mengikuti inisiatif pelepasan sejumlah akun CASA berbiaya tinggi. Kualitas giro dan tabungan membaik sejalan dengan strategi Danamon untuk fokus pada dana pihak ketiga yang lebih granular. Sedangkan deposito turun 8% menjadi Rp 58,2 triliun.

Rasio kredit terhadap total pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) berada pada posisi 91,7% dibandingkan dengan 91,1% setahun sebelumnya. Loan to funding ratio Danamon masih di bawah batas yang ditetapkan Bank Indonesia. Meskipun likuiditas yang ketat pada sistem perbankan pada umumnya, Danamon menjaga tingkat LFR pada level yang ditargetkan.

Rasio kecukupan modal Danamon (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasian berada pada posisi 21,5%, sementara CAR bank only berada pada 22,8%.

Fee-based income tumbuh 9% dari tahun sebelumnya
Fee-based income Danamon bertumbuh sebesar 9% pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dibandingkan setahun sebelumnya menjadi Rp 3,1 triliun. Pertumbuhan fee income ini didukung oleh kontribusi fee income Adira Insurance yang tumbuh 2% menjadi Rp 656 miliar, cash management yang tumbuh 14% menjadi Rp 244 miliar, serta bancassurance yang tumbuh 19% menjadi Rp 203 miliar.

Kualitas aset diperkirakan akan membaik

“Rasio kredit bermasalah (Gross non-performing loans) Danamon tercatat pada 3,5%, kenaikan 50 bps dari tahun lalu namun masih dibawah batas yang ditentukan regulator. Penurunan kredit secara keseluruhan sebagai pembagi (denominator) berkontribusi pada naiknya rasio kredit bermasalah,” tambah Vera. Beliau mengatakan Danamon senantiasa berupaya untuk meningkatkan kualitas asetnya melalui penerapan prosedur pengelolaan risiko yang pruden serta proses collection dan credit recovery yang disiplin.

Bank memperkirakan kualitas aset akan membaik tahun depan. Biaya kredit (Cost of credit) telah turun 4% dari Rp 3,5 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2015 menjadi Rp 3,4 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Perkembangan terakhir
Penghargaan terbaru yang diterima oleh Danamon termasuk ‘Indonesia's 1st Best Local Cash Management Bank in the Small Size of Annual Sales Turnover’ dari Asiamoney pada ajang Asiamoney Summer Awards Dinner 2016. Untuk layanan digitalnya, Danamon dinobatkan sebagai Top 3 Digital Innovation untuk kategori Bank BUKU III oleh Warta Ekonomi dalam ajang Indonesia Digital Innovation for Banking Award 2016. Selain itu, Danamon baru-baru ini menerima Social Business Innovation Award 2016 dalam kategori Bank Swasta dari Warta Ekonomi. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas program revitalisasi pasar yang dijalankan oleh Yayasan Danamon Peduli.