Daihatsu Jepang; Dukung Indonesia Miliki Mobnas

Daihatsu Jepang; Dukung Indonesia Miliki Mobnas

Jakarta, Kabarindo- Niat Indonesia untuk memiliki mobil nasional didukung Jepang.

Jika ada konsep, peta jalan, dan regulasi yang jelas, Indonesia akan memiliki mobil nasional.

Meski tidak menyebut "mobil nasional" atau mobnas, PT Astra Daihatsu Motor (ADM), anak perusahaan PT Astra Internatioanal Tbk, menargetkan pada tahun 2019 nanti seluruh proses produksi mobil dikerjakan oleh putra Indonesia. Jika ada dukungan pemerintah, kandungan lokal atau local content ADM yang saat ini 70-90% akan menjadi 100%.

"Kami akan mendukung niat Indonesia memiliki mobil nasional dengan tetap memberikan bantuan teknis," kata Masanori Mitsui, Presiden Direktur Daihatsu Motor Company Ltd (DMC) di kantor pusat perusahaan otomotif kelas dunia itu, Selasa (9/6).

Mitsui didampingi Presiden Direktur PT ADM Sudirman M Rusdi, Direktur PT Astra International Tbk Djony Bunarto, Chief Corporate Communication PT Astra International Tbk Pongki Pamungkas, Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman, dan sekitar 16 pemimpin redaksi media massa dari Indonesia yang meninjau pabrik DMC di Osaka.

Pihak DMC, demikian Mitsui, mendukung upaya Indonesia memiliki mobnas. Namun diingatkan bahwa peran pemerintah Indonesia sangat penting dalam melahirkan mobnas. Setiap komponen dengan standar internasional harus bisa diproduksi sendiri, di antaranya yang terpenting adalah baja. Selain itu, research and development (R&D) perlu diprioritaskan. Produk padat teknologi seperti otomotif membutuhkan riset dan pengembagan yang terus-menerus.

K-Car dan Hybrid
Saat ini, DMC sedang gencar memproduksi mobil hemat energi berukuran kecil yang disebut "k-car" dan hybrid vehicles. Meski kecil, mobil ini terlihat lapang karena kursi tengah diberikan ruang lebih besar. Penggunaan energi BBM cukup hemat dengan rasio satu liter untuk jarak tempuh 31 km.

Dari 5,6 juta unit mobil yang terjual di Jepang tahun 2014, sekitar 2,2 juta unit adalah mobil mini atau k-car. Pangsa pasar Daihatsu untuk mini car di Jepang tahun 2014 sebesar 31% atau 698.840 unit. Peringkat kedua dan ketiga untuk mobil k-car adalah Suzuki 29% dan Honda 19%

Didirikan tahun 1907 di Osaka, DMC kini sudah berusia 108 tahun dan di Indonesia sudah beroperasi 47 tahun. Sekitar 62% saham ADM dimiliki DMC, 6% Toyota Tusho, perusahaan yang bergerak di bidang penjualan mobil, dan 32% PT Astra International Tbk.

Mitsui mengatakan, selain mengembangkan pasar dalam negeri Jepang, pihaknya juga akan melakukan ekspansi ke berbagai negara, dan secara khusus memantapkan posisi di sejumlah negara yang sudah menjalin kerjasama dengan ADM.

Kata kunci untuk ekspansi pasar DMC, kata Mitsui, adalah "lokalisasi" atau mendesain produk yang sesuai dengan keinginan dari konsumen di setiap negara.

Indonesia dan Malaysia
Di kawasan Asia Tenggara atau Asean, DMC sudah beroperasi di Indonesia dan Malaysia. Jika Indonesia sudah 47 tahun, Malaysia baru sekitar 22 tahun.

"Mana yang kelak menjadi basis produksi untuk ekspor Daihatsu di Asean, Indonesia atau Malaysia, keputusannya sangat tergantung pada kemajuan masing-masing negara. Semua harus bersaing," ungkapnya.

Hampir semua produksi DMC adalah mini vehicles. Sejumlah k-car yang diproduksi DMC antara lain Mira ES, Cocoa, Conte, Move, Wake, dan Tanto. Pada tahun 2014, penjualan mobil DMC di Jepang sekitar 700.000 unit atau meraih pangsa pasar sekitar 12%. Peringkat pertama adalah Toyota dengan 1,5 juta unit. Pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2014, penjualan DMC mencapai 1,8 triliun yen.

"Mobil kecil adalah jawaban terhadap upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan," ungkap Mitsui.

Kiprah Daihatsu di Indonesia
ADM saat ini sudah mampu mendesain dan membuat rancang bangun untuk pembuatan mobil. Perusahaan ini sudah bisa membuat blok mesin, cylinder head, dan sistem transmisi sejak awal 1980-an. ‎

Sedangkan camshaft dan crankshaft dipasok oleh Pakarti Riken Indonesia, perusahaan yang berlokasi di Sidoarjo, Jatim. Pada tahun 2019, ADM ditargetkan sudah bisa membuat seluruh bagian bagian mobil kecuali sejumlah komponen yang tidak memenuhi skala ekonomi. Kegiatan produksi mobil dari survei, desain, rancang bangun hingga produk akhir dibuat sendiri oleh putra Indonesia.

ADM, kata Sudirman, sudah memproduksi berbagai jenis mobil dengan kualitas yang terus meningkat. Pada tahun 2013, ADM memproduksi Daihatsu Ayla, sebuah produk kembar dengan Toyota Agya. Kedua produk ini diproduksi dengan local content 90%. Sebelumnya, sejak 2004, penjualan mobil Astra melesat berkat dua produk kembarnya, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia dengan kandungan lokal 86%. Kemudian, lahir lagi dua produk kembar baru, Toyota Rush dan Daihatsu Terios dengan local content 85%.

ADM juga memproduksi Grand Max. Produk dengan local content 87% itu, kata Sudirman, menembus pasar Jepang sejak 2008. Saat ini, ekspor Grand Max ke Jepang sekitar 500 unit per bulan. Di Jepang, mobil Grand Max menggunakan merek Toyota Town Ace. Daihatsu pick up juga diekspor ke Jepang dengan nama Toyota Lite Ace.

Saat ini, ADM adalah agen tunggal pemegang merek (ATPM) terbesar di Indonesia dengan total kapasitas terpasang 530.000 unit setahun. Sekitar 15% produksi ADM diekspor ke 46 negara. Astra Toyota Agya diekspor ke Filipina.

Produksi ADM didukung oleh 1.236 supplier, terdiri atas 206 lingkar pertama dan 1.030 lingkar kedua. Total supplier menyerap 753.000 karyawan, sedang ADM mempekerjakan 11.600 karyawan seperti dilansir dari laman beritasatu.