Bebas Bergerak; Dengan Bedah Lutut Robotik

Bebas Bergerak; Dengan Bedah Lutut Robotik

Surabaya, Kabarindo- Cedera pada lutut tidak dapat dianggap remeh. Perjalanan karir cemerlang seorang atlet dapat terhenti saat menderita cedera lutut.
 
Ada tiga hal utama yang bisa menyebabkan cedera lutut. Pertama, nyeri pada ligamen dan robek yang umumnya terjadi karena cedera saat melakukan kegiatan fisik seperti olahraga. Lalu, Meniscus Tear atau robek pada kartilase lutut. Selain itu, nyeri lutut parah yang bisa menimbulkan kecacatan karena arthritis, penyakit kronik yang disebabkan peradangan pada satu atau lebih persendian disertai rasa sakit, bengkak, kekakuan dan keterbatasan bergerak.
 
Penyakit ini sering terjadi seiring penuaan. Sebuah hasil survei di Indonesia menunjukkan bahwa Rheumatoid Arthritis diderita 0,5-1% masyarakat.
 
Orthopaedic Surgeon dan CEO Centre for Orthopaedic Mount Elizabeth Hospital Singapore, Dr. Jeffrey Chew, mengakui penyakit radang sendi atau arthritis sudah sering kita dengar sebagai penyakit yang biasa menyerang orang-orang berusia tua.
 
"Penyakit arthritis menyebabkan nyeri pada sendi akibat rusaknya tulang rawan. Tiga jenis yang umum yaitu rheumatoid arthritis, post-traumatic arthritis dan osteoarthritis. Pada semua jenis ini, anda akan mengalami kekakuan dan bengkak serta sulit menekuk lutut," ujarnya pada Jumat (29/1/2016).
 
Jenis arthritis yang paling umum adalah osteoarthritis yang secara progesif mengikis kartilase sendi lutut dan sering terjadi pada usia 50 tahun ke atas. Setelah usia 50 tahun, dampak osteoarthritis akan memburuk karena pemakaian yang terus menerus dan ausnya kartilase sejalan pertambahan usia.
 
Osteoarthritis pada lutut menyebabkan nyeri, keterbatasan gerakan, kekakuan lutut, sendi bengkak, lunak, kecacatan dan kelemahan. Faktor yang menentukan risiko arthritis adalah usia, berat badan, genetik, riwayat cedera, infeksi dan penyakit (tumor/gout). Osteoarthritis juga bisa disebabkan cedera olahraga, keausan robek yang disebabkan aktivitas pekerjaan, seperti konstruksi dan pabrik.
 
Dr. Jeffrey Chew menjelaskan, untuk mendiagnosis penyakit ini biasanya dibutuhkan X-ray dan pemeriksaan fisik, dimana anda diminta untuk menceritakan derajat nyeri lutut, flexibilitas lutut, fungsi dan mobilitas umum.
 
"Kebanyakan kasus dapat diobati secara tradisional dengan obat-obatan, fisioterapi dan suntikan asam hyaluronic pada lutut. Ketiga opsi ini biasanya cukup untuk mengobati kondisi seperti itu. Namun operasi mungkin diperlukan dalam kasus-kasus yang membandel," ujarnya.
 
Beberapa rumah sakit yang bernaung di bawah payung Parkway Hospitals Singapore telah mengembangkan prosedur pengobatan MAKOplasty, yaitu perawatan bedah untuk menghilangkan rasa sakit di lutut yang disebabkan keausan tulang rawan sendi. Prosedur bedah merawat sebagian dari dalam lutut dilakukan dengan menggunakan lengan robot yang memungkinkan ahli bedah merawat hanya pada bagian dalam lutut yang rusak.
Perawatan MAKOplasty paling cocok untuk orang dewasa yang menderita nyeri lutut osteoarthritis. Perawatan ini dilakukan terhadap salah satu dari tiga kompartemen lutut pasien yang tidak memiliki syarat untuk penggantian lutut secara total.
 
Prosedur MAKOplasty melibatkan penggantian bagian permukaan lutut yang sakit dengan cara menargetkan tepat di bagian lutut yang akan dioperasi (dalam 0,5 mm akurasi), sehingga tulang yang sehat dan jaringan di sekitarnya tak tersentuh. Implant ini kemudian diamankan di sendi lutut guna memungkinkan untuk bergerak dengan lancar lagi.
 
Bedah lutut sering kali menyebabkan pasien melewati waktu pemulihan yang tidak sebentar sehingga mengganggu aktivitas. Bedah lutut MAKOplasty memungkinkan pasien mendapatkan waktu pemulihan yang lebih singkat sehingga dapat bangun lebih mudah keesokan harinya setelah operasi dan segera dapat beraktivitas kembali.
 
Cedera pada lutut dapat ditangani dengan metode non-operasi seperti mengurangi berat badan agar kerusakan pada tulang rawan tidak semakin parah atau dengan memberikan suntikan pada lutut. Namun cara-cara ini hanya bersifat meringakan gejala, bukan untuk mengembalikan kondisi tulang rawan seperti semula. Semakin lama dibiarkan, kondisi cedera dapat menjadi semakin buruk.
 
Untuk mendapatkan pengobatan terbaik, konsultasi kepada ahlinya merupakan langkah yang tepat. Hanya dokter bedah yang dapat memberikan keputusan apakah penderita perlu menjalankan operasi atau tidak.
 
“Konsultasikan kepada para ahli untuk mendapatkan langkah penyembuhan yang terbaik. Perkembangan teknologi diharapkan membantu pasien untuk mendapatkan penanganan terbaik serta pengobatan dengan waktu pulih lebih singkat sehingga dapat segera kembali beraktivitas,” ujar Dr. Chew.