Baksos Sri Sathya Sai Baba; Untuk Penghuni Kolong Jembatan Tol Tambak Asri

Baksos Sri Sathya Sai Baba; Untuk Penghuni Kolong Jembatan Tol Tambak Asri

SURABAYA, Kabarindo– Dalam rangka Hari Ulang Tahun Sri Sathya Sai Baba, puluhan pengikutnya mengamalkan ajarannya dengan menggelar aksi kepedulian terhadap sesama.

Bekerjasama dengan Yayasan Bangkitlah Kemanusiaan Indonesia (RISE) dan Komunitas Tolong Menolong (KTM), kali ini sasarannya adalah warga yang menghuni kolong jembatan Tol Tambak Asri, tol yang menghubungkan Dupak-Perak.

Puluhan paket bantuan yang berisikan 15 kg beras, 2 kg kacang hijau, 2 liter minyak goreng, 1 kg gula pasir, 1 dus mie instant, 1 kotak susu bubuk, 1 kaleng susu cair, dan 1 sajadah dibagikan untuk masing-masing Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di kawasan kumuh pinggiran Utara Surabaya ini.

Tak hanya itu, pada kesempatan itu juga dibagikan paket obat-obatan yang berisikan vitamin untuk anak-anak, minyak telon, minyak kayu putih, obat batuk, balsem, dan obat masuk angin.

Tentu saja, bantuan ini diterima dengan senang hati oleh warga yang rata-rata berprofesi sebagai pemulung, pengamen, tukang pijat panggilan, pengemis, dan kuli bangunan ini. Apalagi sekarang sudah memasuki musim penghujan.

Menurut Drg. Reshma, perwakilan dari Yayasan Bangkitlah Kemanusiaan Indonesia (RISE), bakti sosial (baksos) ini bertujuan untuk meringankan beban hidup kaum papa yang tinggal disana. Serta mengantisipasi dampak dari musim penghujan.

“Apalagi melihat hunian mereka yang jauh dari bersih dan sehat. Tentu rentan terhadap pelbagai macam penyakit khususnya flu, masuk angin dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut),” kata Reshma.

Untuk itu, lanjut Reshma, dalam baksos ini juga dibagikan selimut buat seluruh penghuni kolong jembatan tol Tambak Asri.

“Supaya mereka tidak kedinginan kala hujan turun atau pas malam tiba sebagai penghangat waktu tidur,” ujar Reshma.

Pada kesempatan itu juga, para penghuni diajak makan siang bersama dengan menu fastfood. Makanan yang sangat jarang atau hampir tidak pernah dikonsumsi oleh mereka.

“Jangankan untuk beli fastfood, untuk makan saja, kami kesulitan kok,” kata Sriani (65) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Sementara suaminya Kartono (75) hanya bisa tergolek di kasurnya yang lusuh dikarenakan sedang sakit.

Hal senada juga diungkapkan Budi (8). “Saya baru kali ini makan ayam seenak ini. Terima kasih ya, kak,” ucapnya sembari makan bersama kedua adiknya, Ita (5) dan Adi (3).

Daniel Lukas Rorong, Koordinator Aksi dan Ketua Komunitas Tolong-Menolong (KTM) yang juga turut berpartisipasi dalam baksos ini mengaku antusias dan menyambut dengan tangan terbuka jika banyak pihak yang mempedulikan komunitas-komunitas binaannya.

“Karena membantu serta menolong mereka kaum tak mampu, tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tapi juga merupakan tanggungjawab kita bersama,” kata Daniel yang sudah sejak 2007 lalu menjadi aktifis kemanusiaan.

Baksos pun diakhiri dengan pembagian abate dan bersih-bersih hunian untuk menghindari serta mencegah penyakit demam berdarah.