BPPT 2016; Siap Kembangkan Desain Standar Jembatan pendek Indonesia

BPPT 2016; Siap Kembangkan Desain Standar Jembatan pendek Indonesia

Jakarta, Kabarindo- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan desain standar jembatan pendek untuk mendukung percepatan target pembangunan lebih dari 100 jembatan pendek di Indonesia.

"Sesuai arahan Presiden, percepatan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas kuncinya ada di sinergi, dengan melakukan masing-masing tugasnya dengan benar, sehingga tugas besar bangsa juga selesai dengan baik. Dan kami bertugas membuat desain standar jembatan," kata Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Erzi Agson Gani di Jakarta, Senin.

Sesuai Renstra 2015--2019, Pemerintah berencana membangun lebih dari 100 jembatan di Indonesia untuk meningkatkan konektivitas.

Dan sesuai arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla maka "leading sector" untuk proyek pembangunan jembatan tersebut tentu saja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), yang didukung oleh Kementerian Perindustrian untuk penyediaan material. Dan BPPT yang memiliki tupoksi dan kompetensi serta fasilitas laboratorium, menurut dia, telah ditugaskan untuk membuat desain standar jembatan.

Dengan membuat desain standar jembatan Ersi Agson Gani mengatakan artinya ada penyerdehanaan varian jembatan pendek, jembatan menengah, maupun jembatan khusus. Dari masing-masing varian, misalkan jembatan pendek, nanti juga akan disederhanakan lagi sehingga akan tercipta seksi-seksi konstruksi yang berujung pada "critical mass".

"Jadi untuk pembangunan satu jembatan akan ada banyak seksi yang menyiapkan konstruksi tertentu dari jembatan. Pembangunan akan lebih cepat selesai, di sisi lain berarti bisa membuka peluang kerja lebih banyak," ujar dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan dengan adanya standarisasi desain artinya struktur jembatan juga diperhitungkan, sehingga material pun diperhitungkan. Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKND) material jembatan dalam desain standar tersebut tentu bisa diperbanyak agar bisa berpihak pada industri dalam negeri.

"Selain itu, dengan menetapkan standar kita juga tidak disemprit sama WTO," ujar dia.

Pembuatan desain yang standar tentu, ia mengatakan, menjadi kunci untuk nantinya memudahkan uji konstruksi jembatan yang dibangun, mengingat varian dari jembatan tidak banyak. Dengan demikian proses uji konstruksi untuk 100 jembatan lebih yang ditargetkan selesai di 2019 akan lebih cepat dilakukan.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika Aeroelastika dan Aeroakustika (BBTA3-BPPT) Fariduzzaman mengatakan memang pemerintah masih fokus mengganti dan membangun jembatan pendek dengan panjang kurang dari 100 meter. Bukan tidak mungkin Indonesia butuh membangun jembatan menengah dengan panjang 100--150 meter, dan jembatan khusus atau jembatan bentang panjang di atas 150--4000 meter.

BPPT cukup berperan dalam pembangunan jembatan bentang panjang, salah satunya dengan uji aerodinamika Jembatan Suramadu, Jawa Timur, dan Jembatan Merah Putih, Maluku.

"Uji aerodinamika Jembatan Suramadu dilakukan BPPT dan pihak Tiongkok, dan hasilnya kita lebih detil dan metodenya juga lebih jelas," ujar dia.

Untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur BPPT siap berperan melalui Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika. Selain itu, Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi, dan Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur seperti dilansir dari laman antaranews.