16 Seniman Korea; Unjuk Karya Di Pameran Seni Kontemporer GNI Jakarta

16 Seniman Korea; Unjuk Karya Di Pameran Seni Kontemporer GNI Jakarta

Surabaya, Kabarindo- Sebanyak 16 seniman Korea unjuk karya dalam pameran seni kontemporer yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia dan Galeri Nasional Indonesia bersama Korea Arts Management Service pada 9-20 Januari 2015 di Galeri Nasional Indonesia.

Keenam belas seniman Korea tersebut adalah Choi Myoung-Young,  Chung Chang-Sup, Chung Sang-Hwa, Ha Chong-Hyun, Jang Seung-Taik, Kim Taek-Sang, Kim Yik-Yung, Kwon Dae-Sup, Kwon Young-Woo, Lee Gee-Jo, Lee Kang-Hyo, Min Byung-Hun, Moon Beom, Park Ki-Won, Wen Ping dan Yun Hyong-Keun. Mereka menampilkan 52 karya berupa 47 lukisan dan 5 keramik.

Rilis yang diterima dari GNI pada Selasa (13/1/2015) menyebutkan, Pameran dibuka oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Cho Tai-Young, pada Jumat malam (9/1). Sebelumnya dilaksanakan Gallery Tour yang dipandu oleh Chief Kurator & Art Director, Chung Joon-Mo.

Pameran tersebut merupakan rangkaian pameran yang dimulai dari Shanghai, Beijing, Jerman, Hungaria dan negara lain di Eropa. Pameran mengangkat tema Empty Fullness : Materialitas dan Spiritualitas dalam Seni Modern Korea yang ingin mengenalkan kebudayaan cendekiawan Korea yang bisa dinilai sederhana namun anggun.

Pameran bertujuan menginterpretasikan kembali lukisan monokrom Korea terutama terfokus pada strukturalisasi permukaan datar, netralisasi serta penyatuan materialitas dan lukisan. Terutama ‘Dalhangari’ (guci bulan), salah satu keramik tradisional Korea yang memberikan petunjuk untuk ‘membaca’ penyatuan karakteristik gaya dan konten atau perbedaan diantara keduanya.

Tubuh Dalhangari tampak seksi dan bentuk bundarnya sangat halus. Karena sulitnya teknik pembentukan bagian tengah dari tubuh utama tersebut, bagian atas dan bawahnya dibuat terpisah dan kemudian disatukan. Guci tanah liat yang masih basah dikeringkan kemudian dipanggang dalam oven, sehingga bentuknya menjadi terdistorsi dan bertransformasi menjadi karakteristiknya sendiri.

Dari segi style, lukisan monokrom di Korea mirip dengan lukisan minimalis di Amerika dan Eropa pada era 1960-an. Karena itu, lukisan monokrom Korea tampak mengikuti konsep minimalisme yang menjangkau realitas murni dengan meminimalkan teknik dan dramatisasi Barat serta menyatukan aktualitas dengan karya seni rupa sebagai esensi obyek.

Lukisan monokrom generasi pertama memiliki basis yang kuat pada tradisi Konfusius dan semangat Seonbi (lelaki terpelajar), sedangkan generasi kedua lebih banyak terpengaruh oleh modernisme. Namun karya-karya kedua generasi tersebut sama-sama berusaha untuk merestorasi seni rupa tradisional dan menyatu dengan alam yang sulit dilakukan selama masa kolonial.

Lukisan Korea menyajikan aspek umum dari transformasi perspektif tradisional terhadap alam dan warisan tradisi serta transisi kreatifnya. Lukisan Korea memiliki beragam aspek seperti aktivisme, strukturalisasi permukaan datar, netralisasi, hubungan, originalitas, spiritualitas, identifikasi, integrasi materialitas dan lukisan serta berdasarkan kesederhanaan dan berpegang teguh pada tradisi Korea, kecenderungan tersebut dikelompokkan sebagai lukisan monokrom Korea, terlepas dari karakteristik individunya.