10 Fotografer; Pamerkan Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum

10 Fotografer; Pamerkan Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum

Surabaya, Kabarindo- Sepuluh fotografer unjuk karya dalam pameran foto "Perjalanan ke Tanah Leluhur Danau Sentarum" yang berlangsung hingga 8 Agustus 2014 di Galeri House of Sampoerna (HoS).

Mereka adalah Anastasia Widyaningsih, Atet Dwi Pramadia, Bayu Amde Winata, Dhira Danny Widjaja, R. Heru Hendarto, Idham Rahmanarto, Ramadian Bachtiar,  Rangga Rinjani, Septiawan dan Sumarno.

Kesepuluh fotografer tersebut menggelar 61 foto yang bercerita tentang keanekaragaman alam, budaya dan pranata sosial hasil pemotretan ke sejumlah daerah di kawasan Danau Sentarum di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Mereka datang ke sana untuk berinteraksi langsung dengan warga setempat, hidup bersama selama beberapa waktu pada musim penghujan maupun musim kemarau.

“Karya mereka diharapkan dapat membuka mata kita akan keberadaan Danau Sentarum, penduduk, lingkungan maupun budayanya agar kita tahu wilayah ini juga bagian dari NKRI yang memiliki keistimewaan tersendiri, sama seperti daerah-daerah lain di Nusantara,” ujar Rani Anggraini, Museum Manager House of Sampoerna, pada Selasa (15/7/2014).

Danau Sentarum belum sepopuler danau-danau lain yang tersebar di Nusantara. Keberadaannya di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia yang sepi membuatnya seakan terisolir dan cenderung luput dari perhatian pemerintah maupun masyarakat.

Danau tersebut berada di dalam Taman Nasional Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat, sekitar 700 kilometer timur laut Pontianak. Secara administrasi, kawasan ini meliputi tujuh kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Batang Lupar, Badau, Embau, Bunut, Suhaid, Selimbau dan Semitau.

Topografi danau seluas 80.000 ha ini terhitung istimewa karena bentuknya cekungan datar atau Lebak Lebung (floodplain) yang merupakan daerah hamparan banjir, dikelilingi pegunungan sehingga danau ini merupakan salah satu tipe ekosistem hamparan banjir paling luas di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang masih tersisa dan dalam kondisi baik.

Kawasan Danau Sentarum merupakan daerah tangkapan air pada musim hujan yang akan tergenang selama sekitar 10 bulan dengan kedalaman 6-14 meter, namun kondisi kering kerontang yang kontras akan terlihat pada musim kemarau, yang hanya menyisakan alur-alur sungai kecil di tengah bentangan cekungan danau yang luas.

Danau Sentarum menjadi pendukung bagi kehidupan masyarakat Melayu dan Dayak yang tinggal di sekitar danau. Mayoritas masyarakat Melayu memiliki mata pencaharian sebagai nelayan yang terbiasa menjala, memukat, memasang sentaban (jebakan ikan), memelihara ikan dalam keramba serta mengumpulkan ikan-ikan hias. Sedangkan masyarakat Dayak yang mayoritas terdiri dari suku Dayak Iban, Kantuk, Embaloh, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan adalah peladang dan pemburu yang tangguh.