Bappebti Gandeng 20 Perguruan Tinggi; Kenali Perdagangan Berjangka Komoditi

  Bappebti Gandeng 20 Perguruan Tinggi; Kenali Perdagangan Berjangka Komoditi

Jakarta, Kabarindo- Jadi mahasiswa bukan berarti tak bisa berpenghasilan.

Apalagi kini dan di masa depan, di era globalisasi, perdagangan melibatkan seluruh negara di dunia dan tak lagi dilakukan secara konvensional.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Sutriono Edi, mengajak lebih dari 200 mahasiswa dari 20 perguruan tinggi (PT) se-Jabodetabek mengetahui seluk-beluk Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) sekaligus mensimulasikan cara berbisnis melalui Bursa Berjangka.

Acara ini dikemas sebagai bagian sosialisasi PBK yang dihelat di Auditorium Andi Hakim Nasution, Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga Bogor, Kamis (11/9).

Mahasiswa dilatih menggunakan software yang disediakan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). Dalam acara bertajuk "Commodity and Derivatives Exchange Competition" itu, Bappebti menggandeng Fakultas Ekonomi Manajemen IPB demi suksesnya acara tersebut.

"Di era globalisasi seperti sekarang ini, mahasiswa perlu dibekali wawasan perdagangan berjangka komoditi yang kini semakin banyak diminati pelaku perdagangan dunia," tegas Sutriono dalam sambutannya saat membuka acara tersebut. Dikatakan Sutriono, kegiatan ini diharapkan mampu memberi citra positif terhadap perdagangan berjangka komoditi. Mahasiswa juga bisa berperan secara aktif, menyusun strategi dalam perdagangan komoditi dunia karena sudah memiliki wawasan PBK.
"Dalam beberapa tahun ke depan, kami juga berharap agar mahasiswa dapat mengambil peran sebagai investor, ahli komoditi, ahli di bursa dan kliring berjangka, dan berbagai peran lain di dalam industri perdagangan berjangka," ujar Sutriono.
Menurutnya, PBK sangat strategis dalam perekonomian nasional di era perdagangan bebas saat ini karena perananannya sebagai sarana lindung (hedging), sarana pembentukan harga (price discovery), dan investasi alternatif yang sangat diperlukan bagi pelaku usaha untuk melindungi usahanya.
Menjelang implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di tahun 2015, Sutriono mengatakan semua pihak sudah harus mempersiapkan diri dan jeli melihat peluang dan tantangan yang ada. "MEA membuka pasar yang sangat luas, yaitu pasar ASEAN yang mencapai 600 juta orang, sehingga diharapkan arus investasi juga mengalir ke dalam negeri dan menciptakan multiplier effect. MEA harus dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan perekonomian nasional, pendapatan negara, dan pengembangan pasar, khususnya untuk pasar komoditi utama seperti kopi, kelapa sawit, kakao, dan karet," ujarnya.
Berdasarkan data dari World Economic Forum (WEF), daya saing Indonesia tahun 2013-2014 melonjak tajam dari urutan ke-50 menjadi urutan ke-38. Kenaikan peringkat tersebut menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu bersaing dengan negara lain karena pasar semakin terbuka dan semakin mudah melakukan investasi yang didukung dengan perangkat hukum yang dapat menjamin keamanan berinvestasi di Indonesia.
Ekonomi Indonesia saat ini merupakan salah satu faktor kunci utama pertumbuhan pasar dunia. Pencapaian Indonesia dalam mengantisipasi dan melewati krisis keuangan global cukup luar biasa. Berdasarkan data World Economic Outlook 2011, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan Indonesia akan mencapai pertumbuhan tercepat ke-2 di antara 18 ekonomi terbesar dunia selama 2009-2015.
Industri bursa berjangka di Indonesia dimulai sejak tahun 1997 di bawah Undang-Undang No. 32/1997 dan telah diamandemen dengan Undang-Undang No. 10/2011. Bursa yang pertama di Indonesia adalah Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange) yang didirikan tahun 2000. Kemudian pada 2010, Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (Indonesian Commodity and Derivative Exchange) didirikan.
Industri perdagangan berjangka komoditi Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi acuan harga dunia. Mengingat Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, baik yang terbarukan (produk pertanian seperti kakao, kopi, dan minyak sawit mentah) serta tidak terbarukan (pertambangan dan mineral seperti emas, timah, batu bara, nikel, dan bauksit). Namun potensi tersebut belum sepenuhnya optimal dikembangkan, karena masih cukup banyak komoditi andalan ekspor yang belum menjadi subjek kontrak berjangka di bursa berjangka.
"Saat ini banyak sekali komoditi ekspor Indonesia yang diperdagangkan di bursa berjangka luar negeri. Oleh karena itu, diharapkan bursa berjangka di Indonesia bekerja keras menciptakan subjek kontrak berjangka agar harga yang tercipta di bursa dapat menjadi acuan harga dunia bagi perdagangan komoditi," imbuh Sutriono Edi.
Tunggu Pelantikan Presiden
Sementara itu, Sekretaris Bappebti Sri Nastiti menegaskan selama periode Januari hingga Juli 2014, nilai transaksi PBK mengalami penurunan sebanyak 12,56% atau menjadi Rp 48,13 triliun dibandingkan tahun 2013 pada periode yang sama, yaitu sebanyak Rp 55,04 triliun. "Penurunan yang terjadi dikarenakan investor masih menunggu kepastian situasi politik dan keamanan di Indonesia menjelang pelantikan Presiden RI yang baru serta kecenderungan tren perekonomian global yang mengalami penurunan," ujarnya.
Kelembagaan pelaku usaha PBK yang mendapatkan izin dari Bappebti, ada 2 Bursa Berjangka (BBJ dan BKDI), 2 Lembaga Kliring Berjangka (KBI dan ISI); 7 Bank Penyimpan Margin yang terdiri dari Bank Niaga, BCA, BNI, Bank Windu, Bank Sinarmas, Standard Chartered Bank, dan Bank Mandiri; 70 Pialang Berjangka; 2.303 Wakil Pialang Berjangka dan 255 kantor cabang Pialang Berjangka, 105 Pedagang Berjangka; 60 Peserta Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) dan 16 Penyelenggara SPA; serta 2 Pialang Penyaluran Amanat Luar Negeri (PALN).