Iwan Sunito; Kita Harus Lebih Gesit Merespon Pasar

Kontributor : Teks & Foto2: Natalia Trijaji (Kontributor Surabaya & Sekitarnya)

Dalam menghadapi pemain global di pasar properti

Surabaya, Kabarindo- Kita harus lebih mengerti pasar dan lebih gesit merespon pasar.

Advis ini diberikan CEO dan Komisaris Crown Group, Iwan Sunito, kepada pengembang lokal dalam menghadapi persaingan dengan pemain global di pasar properti, termasuk di Indonesia.

“Karena bagaimanapun pengembang lokal yang lebih mengerti pasar dibandingkan dengan pemain global,” ujarnya pada Kamis (11/1/2018).

Iwan merujuk pada Crown yang menggeluti pasar properti di Australia. Ia mengatakan, pasar properti Australia, khususnya di Sydney, mendapat serbuan dari perusahaan properti global yang memiliki kemampuan modal fantastis.

“Perusahaan pengembang lokal umumnya menghadapi masalah keterbatasan sumber dana dari sektor perbankan. Sementara perusahaan global memiliki modal jauh lebih besar. Sementara itu harga tanah terus melambung, meskipun daya beli pasar masih kuat,” ujarnya.

Iwan memberikan contoh harga lahan di kawasan Green Square, Sydney, sekitar Rp.500 miliar pada 3-4 tahun lalu, sekarang menjadi Rp.1-1,5 triliun. Sementara pada saat bersamaan, perbankan memperkecil pinjaman kepada pengembang lokal. Jika biasanya mereka mendapat Rp.2-3 triliun untuk satu kali pinjaman, saat ini hanya sekitar Rp.1 triliun. Nilai skala proyek semakin besar, namun jumlah dana yang bisa diperoleh mengecil.

Iwan memahami, pihak perbankan wajib berhati-hati. Namun kondisi tersebut menimbulkan kompleksitas. Harga tanah semakin melambung selama proses perijinan berjalan, sementara pengembang lokal harus mencari pinjaman ke dua atau tiga bank untuk memenuhi kebutuhan pendanaan mereka. Hal ini mengakibatkan pasokan hunian tidak bisa memenuhi jumlah permintaan, karena banyak pengembang skala menengah ke bawah yang kesulitan mendapatkan pendanaan. Namun hal ini tidak terjadi pada Crown yang memiliki akses ke institusi pendaaan global, sehingga tidak bergantung kepada institusi pendanaan lokal.

“Kondisi yang dialami pengembang lokal dalam menghadapi persaingan dengan pengembang global seperti David vs Goliath. Situasi ini membuat semuanya menjadi kompleks, karena terjadi persaingan yang tidak seimbang,” ujarnya.

Menurut Iwan, seperti halnya David dan Goliath, bukan si besar yang akan mengalahkan si kecil, melainkan si cepat mengalahkan si lambat. Untuk itu, pengembang lokal harus lebih mengerti dan lebih gesit merespon pasar. Karena bagaimanapun pengembang lokal yang lebih mengerti pasar jika dibandingkan dengan pemain global.

“Mereka memang memiliki dana yang tidak terbatas, namun tidak memiliki pemahaman yang mendalam terhadap pasar lokal. Mereka mampu mendorong harga secara signifikan, namun lebih lambat dalam memubuat keputusan. Kalau kita tidak gesit, akan sulit untuk bersaing dengan mereka,” tuturnya.

Iwan menambahkan, pemerintah juga harus berperan aktif dalam membuat regulasi yang mendukung perusahaan lokal daripada memberikan bermacam pembatasan. Contohnya pembatasan dalam hal pembiayaan dan penjualan hunian kepada orang asing yang berdampak terhadap pengembang lokal.




Berita Lainnya
GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018; Siap Di Gelar

Jakarta, Kabarindo-  GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) di tahun 2018 akan hadirkan pameran khusus kendaraan komersial, GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2018, yang akan


Kota Jambi; Baca Alquran Jadi Syarat Masuk Sekolah Baru

Jambi, Kabarindo- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batanghari menetapkan bisa membaca dan menulis Alquran sebagai salah satu syarat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tingkat Sekolah Menengah


PH CVS Naik Kelas; Siap Rilis Film Flight555 Lusa

XXI Epicentrum, Jakarta, Kabarindo- Anda tentu kangen dengan produk anyar dari Citra Visual Sinema yaah ?

Tentu saja masih ingat dengan film terakhir bergenre Psycho dan


Dosen ITS Rancang TB-Analyzer; Percepat Diagnosa Tuberculosis

Surabaya, Kabarindo- World Health Organization (WHO) menyatakan tuberculosis (TB) merupakan salah satu penyakit penyumbang kematian tertinggi di dunia. Angka kematiannya mencapai 1,7 juta jiwa per tahun, Salah