09-June-2011-20:33:40

Sound of (Digital) Music


Musik seperti halnya teknologi juga mengalami evolusi, mulai dari kaset, piringan hitam, compact disk (CD) hingga yang terkini Ring Back Tone (RBT), fulltrack download, mini song dan video clip. RBT melalui operator seluler, sementara fulltrack, minisong dan video clip bisa diperoleh menggunakan broadband internet dan seluler. 

Evolusi ini juga berdampak terhadap bagaimana seorang artis mendapatkan revenue. Dulu artis melakukan tur keliling kota untuk promosi agar penjualan CDnya laku keras sehingga banyak artis yang pada era 90an dan awal 2000 mampu meraih penjualan CD meledak dan meraih multi platinum seperti Sheila On 7, Samson, Peter Pan dll. Kini artis membagikan CDnya secara gratis untuk bisa mendapatkan banyak permintaan tur.

CD dengan format Digital berdampak musik dengan mudah dicopy dan dibajak. Akibat maraknya pembajakan, penjualan CD tak pelak turun hingga 10% dalam kurun waktu tak sampai 10 tahun. Belum lagi maraknya situs-situs yang menawarkan musik illegal yang dengan mudah didownload oleh pendengar generasi kini. Generasi yang mengganggap musik adalah gratis karena tidak pernah mengenal yang namanya CD.

Sejak 7 tahun yang lalu RBT menjelma menjadi sumber penghasian utama dari musik. RBT menjadi cara menikmati musik yang unik dimana musik tidak didengarkan pemilik yang membayar lagu tersebut, namun didengarkan oleh orang yang menelpon pemilik lagu. RBT yang dipilih mencerminkan identitas, selera dan apresiasi pemilik terhadap musik. Kalau kita menelpon seseorang dan mendapatkan RBT dangdut, maka dapat disimpulkan bahwa selera musiknya adalah dangdut bahkan suasana hati pemilik RBT tersebut juga tercermin dari lagu dangdut yang dipilih.

Ditilik dari nilai bisnis, industri musik Indonesia saat ini sekitar 7 Triliun dimana RBT, minisong, fulltrack saat ini dari mencapai 2.5 Triliun, sementara CD, kaset dll berkisar di 300 Milyar, sisanya sebesar 4.2T adalah bajakan. Nilai industri musik bajakan sangat memprihatinkan, betapa besar kerugian Negara dari pajak, kerugian kretivitas pencipta lagu, label dan musisi. Hal ini membuat beberapa musisi bahkan memboikot tidak mau berkarya lagi. Di lain pihak, ada juga musisi yang kreatif dengan berbagai cara dan memanfaatkan media sosial mampu bertahan dan tetap menghasilkan karya musik bagi penggemarnya.

Indonesia menjadi satu-satunya negara dimana RBT mampu mencapai skala ekonomi. Hal ini tidak terlepas dari budaya bangsa Indonesia yang gemar berbagi. RBTpun menjadi pilihan artis dan label karena operator mampu melindungi agar lagu tidak dibajak oleh pendengar. Band Wali bahkan mencapai rekor download RBT di atas 10 juta untuk lagu Cari Jodoh. Meski kualitas RBT tidak total menggambarkan keseluruhan instrumen musik dan juga durasi yang hanya 30 detik dari mestinya 2-3 menit, tidak menghalangi penikmat musik untuk menggunakan RBT di handphonenya. 

Para labelpun secara kreatif memanfaatkan fenomena  RBT dengan berbagai SMS berlangganan hingga hadiah untuk promosi lagu misalnya hadiah 9.9 Milyar dari Album Indah Dewi Pertiwi yang berhasil menembus penjualan CD yang fantastis hingga 1.5 juta copy dan RBT hingga 3 juta download. Berbagai promosi lewat TV, media sosial dll semua ditujukan untuk mendapatkan penghasilan diluar penjualan CD yang kini sudah tidak bisa diandalkan.

Pertumbuhan RBT yang kini sudah tidak sepesat 2 atau 3 tahun lalu mendorong operator mencari beberapa alternatif yaitu Fulltrack download, mini song dan video clip. Di Amerika dan Eropa, Apple melalui iTunes berhasil menjual fulltrack per lagu di kisaran $0.99 yang kini belum signifikan di Indonesia. Fulltrack download secara legal sudah dimulai di Indonesia dengan hadirnya fulltrek.com, Melon.co.id, langitmusik.com dll. Namun fulltrack, mini song dan video clip belum menunjukkan tanda-tanda untuk mampu meraih skala ekonomi seperti halnya RBT. Operator dan industri rekamanpun hingga kini masih mencari bisnis apa setelah RBT? Waktulah yang akan membuktikannya.

( Sri Safitri )