22-July-2009-15:03:09

3D and 3G


Teknologi telekomunikasi terutama teknologi seluler berkembang sangat pesat dalam dekade 1990an sampai saat ini. Kini seluler sudah memasuki generasi 3G (baca: tri ji). Demikian juga halnya dengan industri kesehatan ternyata juga tidak kalah pesat perkembangannya dbandingkan seluler. Kini dunia medis bahkan sudah didukung oleh teknologi 3D (baca: Tri di).

Pada akhir tahun 1990an, seluler belum banyak digunakan, masih merupakan barang mahal, bentuknya besar dan menjadi kebanggaan ditenteng kemana-mana. Rasanya bangga sekali ketika HP yang besar ini berdering ditengah keramaian dan dilihat oleh banyak orang sebagai pemilik HP. Namun kini, hampir semua lapisan masyarakat sudah menggunakan seluler atau telepon genggam mulai dari pejabat tinggi, hingga mbak yang membantu di rumah bahkan ojekpun sudah bisa dipesan via HP. Tak pelak lagi hal ini berdampak pada perang tarif antar operator. Tarif yang murah inipun mendorong budaya baru di kalangan bawah yaitu demam menelpon di tengah malam.

Sejak 2008, industri seluler memasuki babak baru yaitu dimulainya teknologi 3G yang lisensinya dimenangkan oleh operator Telkomsel. Teknologi 3G ini memungkinkan seluler bukan hanya untuk menelpon namun juga untuk komunikasi data seperti facebook, internet dan chatting namun juga untuk komunikasi dan pertukaran gambar ataupun video. Dengan teknologi ini video rekaman peristiwa, ataupun suasana dan model baju bisa dikomunikasikan langsung dengan lawan bicara.

Meskipun penggunaan 3G belum sepopuler telpon dan SMS saat ini yang mungkin disebabkan harga HP yang dapat mendukung 3G masih mahal, namun potensi penggunaan teknologi ini sangat besar. Apalagi dilihat dari manfaat dan kemudahan penggunaannya. Dengan didukung oleh tariff yang murah, penggunaan 3G diperkirakan akan segera booming menyusul murahnya harga handset 3G di pasar.

Tak dinyana, kecuali bagi yang berkecimpung di dunia medis, perkembangan dunis kesehatan pun berkembang sedemikian pesatnya. Dalam lawatan saya ke negeri tetangga  untuk berobat ke dokter gigi, saya cukup terkesima ternyata dunia medspun tak kalah perkembangannya dibandingkan dunia telekomnunikasi yang saya geluti. Dokter gigi yang di Indonesia masih didominasi oleh rontgent 2D (2 Dimensi) di Singapore sudah menggunakan teknologi 3D (3 Dimensi). Teknologi 2D ini memungkinkan permasalahan dan kondisi gigi dapat dilihat secara detil, dari berbagai sisi hingga ukuran dalam millimeter. Dengan teknologi ini sang dokter tidak lagi menduga-duga penyebab dari sakit gigi apakah akar gigi bermasalah ataukah gusinya.

Ketika mendadak sakit gigi di Singapore dan harus mengurus ijin asuransi kedua teknologi ini menjadi andalan. Hasil 3D dari komputer di Rumah sakit langsung ditunjukkan ke pihak asuransi dengan Multimedia Call teknologi 3G untuk mendapatkan persetujuan tindakan selanjutnya. Betapa teknologi mempercepat proses dan mendekatkan jarak.
 
Menakjubkan!
( Sri Safitri )