
Kontributor : Teks: Dina Azzahra / Foto-Foto: Istimewa
Rejuvenate Dobrak Kemapanan Industri Fashion; Sambut Kebebasan....!
Regenerasi Dalam Dunia Mode Indonesia
Beberapa tahun belakangan ini, dunia mode di Indonesia mulai terlihat gelombang baru. Hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya perancang-perancang muda berbakat.Jakarta, Kabarindo- Mereka secara simultan mulai menunjukkan eksistensinya.
Dengan mempertunjukkan koleksi- koleksinya kepada publik, baik dalam bentuk peragaan busana maupun membuka tempat jual di pusat-pusat belanja ternama.
Pekan lalu, empat perancang muda yakni Albert Yanuar, Hian Tjen, Imelda Kartini Prasetyo dan Tex Saverio, menampilkan karya-karya mereka dalam sebuah peragaan bersama.
Tujuannya tidak saja ingin memperkenalkan diri ke hadapan masyarakat luas, tetapi mereka juga ingin memperlihatkan eksistensi mereka secara kreasi.
Kehadiran mereka merupakan sebuah fenomena yang mengembirakan bagi perkembangan industri mode. Karya-karya kreatif mereka memberikan angin segar, sekaligus alternatif baru , teidak hanya kepada pecinta mode lokal, tetapi juga bagi perjalanan kreatif dunia mode itu sendiri.
Munculnya nama-nama berpotensi itu membuat arah mode di Indonesia kini sedang memasuki era regenerasi perancang. Bukan tidak mungkin gaya mode di paruh kedua era 2000 ini akan ditentukan oleh para perancang muda berbakat.
Sejalan dengan misi mereka untuk memberikan angin segar bagi panggung mode, keempat perancang muda ini memilih tema peragaan berjudul Rejuvenate.
Albert Yanuar, perancang muda yang memiliki filosofi menciptakan kreasi yang feminin, kuat dan puitis, kali ini menampilkan eksplorasi berbagai kerajinan tangan nusantara dan busana-busana ciptaannya dan membuat busana tersebut terlihat modern dan edgy.
Dalam peragaan busana kali ini, Albert menampilkan The Age of Reckoning. Koleksinya ini merupakan titik balik dari semua kejenuhannya dalam merancang gaun cantik dengan ornamen payet dan kristal.
”Selama ini saya suka mengikuti keinginan klien. Kali ini, saya justru ingin tampil beda. Meski demikian, saya tetap ingin wanita tampil lebih feminin,” ujarnya.
Dia juga menghadirkan aksesoris etnik dan bentuk lipit merupakan daya tarik 19 gaun elegan dalam palet warna sampanye, jingga, ungu dan biru. Sebuah ungkapan akan pandangannya terhadap mode yang dinilainya sebagai sebuah kombinasi memukau antara seni dan komersialisasi.
Bagi Hian Tjen, mengambil elemen masa lalu untuk digarap ke dalam bentuk masa depan merupakan gagasan barunya dalam mendesain pakaian.
Dia menampilkan 19 busana rancangannya dengan tema Lemurian. Benua Lemuria diperkirakan ada pada 4,5 juta sampai 12 ribu tahun sebelum masehi. Bangsa Lemurian memiliki peradaban maju, makmur, cerdas dan sudah mengenal teknologi tinggi. Perang Atlantean menyebabkan benua Lemuria dan Atlantis sama-sama hilang di dasar samudar sepanjang pasifik sampai Selandia Baru.
Hian Tjen mencoba mengangkat kejadian sejarah ini dalam 19 gaun rancangannya yang didominasi bentuk sirip dan bersudut tajan dari atas materi logam dan kulit untuk memperkuat citra futuristik.
Dengan menggabungkan lukisan tangan, lempengan logam dan warna terang, karakter koleksinya ini terbentuk edgy dan androgini. ”Saya ingin memperkenalkan gaya khas saya yang belum pernah ada sebelumnya,” kata Hian Tjen seperti dikutip dari Harian Sinar Harapan.
Film Avatar ternyata telah mempesona daya imajinasi Imelda Kartini ketika dia menyiapkan koleksi berjudul Fairy Warrior. Ia tertarik pada karakter jahat dalam film fiksi ilmiah itu untuk memperliar garis desainnya yang feminin.
Dimulai dari nuansa warna-warni, beralioh pada paduan hitam dan putih sampai berakhir pada nuansa serba putih yang hening sekaligus dramatis. Imelda ingin memperkenalkan ciri khasnya yakni feminin, berwatak keras dan kuat.
Sementara itu Tex Saverio menilai setiap wanita memiliki karakter ingin terlihat cantik, dipuja, kuat dan sensual. Untuk menghadirkan karakter seperti itu, dia mengambil referensi dari kaum courtesan yakni wanita kalangan istana Eropa yang di abad 16 bergeser maknanya sebagai selir kerajaan. Dia melihat gaya korset di masa itu sebagai keindahan ideal yang memancarkan feminitas tinggi.
Tex menampilkan 18 gaun rancangannya yang memancarkan kesan glamor dengan fokus pada bentuk bustier dengan ornamen lipit, gelepai, bordir, jumbai benang hingga penggunaan 300 meter pitadan 200 meter organsa sebagai detil dekoratif.
Ciri khasnya adalah menggabungkan modernitas dan elegansi.
Saatnya Orang Muda Berkarya
Isi Komentar Anda














