
.jpg---isi.jpg)
Monday , 22 February 2010-22:15:48
Kontributor : Teks : Reza Adi Surya/Foto2 : Istimewa
Jakarta, Kabarindo - Target pertama ialah Dapur Babah Elite di Jalan Veteran 1 Jakarta Pusat yang pada masa kumpeni dikenal sebagai Citadel Straat.
Pionir restoran peranakan di negeri ini menempati dua ruko peninggalan masa kolonial, hanya terpisah satu pintu dari Es Krim Ragusa yang juga berdiri sejak para londo bercokol di negeri ini. Patung Budha raksasa berwarna putih di depan pintu utama, seolah menjanjikan petualangan mengasyikkan.
Benar saja, patung Budha, Dewi Kwan Im, lukisan-lukisan hingga poster iklan jadul di restoran yang didirikan pada 2004 itu membuat kami terbawa ke sebuah masa ketika Indonesia masih terbagi dalam kasta. Ada para noni dan meneer yang paling dihormati, serta para babah di posisi kedua, disusul pribumi di status terbawah.
Tapi tidak semua kaum pribumi dinomortigakan. Orang-orang lokal masih bisa naik derajat, asal mereka menikah dengan kasta diatasnya. Nah, mereka yang menikah dengan imigran China kemudian disebut kaum peranakan. Anak cucu yang lahir dari perkawinan campur itulah yang dipanggil Babah. Istilah ini populer di Malaysia juga pada sebagian etnis Betawi dan Jawa.
Para Babah prigel mengawinkan masakan China Daratan dengan menu lokal, terkadang melibatkan gaya kuliner kolonial. Mereka mengawinkan tradisi kuliner Cina yang kaya dengan aneka ragam sup, banyak diwarnai kecap serta tak bisa jauh-jauh dari ayam dan bebek.
"Menunya dikoleksi dari resep-resep rahasia keluarga peranakan, jadi pasti otentik dan enak," kata Desiree Zecha, Executive Sales Manager Dapur Babah yang menemani kami.
Menu pertama yang kami cicipi adalah Lidah Sapi Terseloeboeng. Lidah dibumbui bestik, dengan bumbu kecap dan merica. Bestik sendiri merupakan upaya masyarakat Jawa menerjemahkan menu steak yang dibawa para meneer di masa lalu. Selain namanya yang kemudian dijawakan, perendamnya pun dilokalkan dengan melibatkan kecap.
Puas menikmati kelembutan sajian lidah yang sebenarnya lebih kental unsur kolonial dan Jawa-nya, kami lalu beralih ke nasi hijau yang disajikan dalam pincukan daun pisang. "Kita pakai daun suji untuk mendapatkan warna hijaunya dan pandan agar wangi," kata Desiree.
Benar saja, selain pulen dan gurih, keharuman dan wujudnya yang segar membuat nasi -bahkan tanpa lauk pun-, tandas dalam sekejap. Sebagai penutup, giliran lontong cap gomeh, sajian wajib di dapur peranakan yang dihidangkan dua pekan setelah imlek. Sang lontong tiba dengan pasukan lengkap, ada ayam yang dibumbui opor kuning, sayur pepaya berpadu pete, udang goreng kering serta serundeng udang dan kelapa.
"Yang paling istimewa, yang khas Babah adalah bubuk kedelainya. Buat menikmatinya, ini mesti dicampurkan dengan kuah," kata Desiree.
Petulangan belum berakhir. Jika Dapur Babah menghadirkan suasana eksotik nan otentik yang avant garde, kini giliran mencicipi sajian peranakan yang juga telah hip di kalangan urban. Kami pun berputar ke Plaza Semanggi menuju salah satu dari tujuh cabang Radja Ketjil yang tersebar di seantero Jakarta.
Dari segi desain, restoran milik Calerina serta komedian Tika Panggabean ini kentara lebih ringan kendati tetap berusaha menghadirkan suasana masa lalu. Ada nampan kaleng dan rantang besi berlukis kembang-kembang yang dipajang bersama daun pintu, pagar dan kandang burung yang pasti akan membuat setiap orang bergumam, mengingat-ingat masa lalu.
Kami dijamu ayam goreng Ibu Tiri berbalut ulekan cabe rawit hijau berhiaskan irisan daun bawang. Ada juga menu favorit Radja Ketjil lainnya, tahu hujin tje lie rina yang konon merupakan nama peranakan si pemilik. Niat awal sekadar icip-icip pun runtuh. Ayam goreng yang konon pedasnya mirip ibu tiri yang kejam --karena tentu ada juga yang baik hati--, terasa begitu berani, memaksa kami untuk tak berhenti di suapan pertama. "Kami padukan dengan kemiri, asyik kan?" ujar Risti sang store manager.
Perhatian kemudian berlanjut pada tahu bertabur ayam cincang berbalut saus tiram. Tahu yang dibuat home made di masing-masing resto Radja Ketjil ini bukan hanya melibatkan susu kedelai, tapi juga kuning telur! Irisan daun pocay di bagian bawah tahu membuat tampialnnya kian cantik.
Sumber : Media Indonesia
Kontributor : Teks : Reza Adi Surya/Foto2 : Istimewa
Dapur Babah Elite; Pionir Restoran Peranakan
Terletak di Jl. Veteran
Mumpung belum jauh dari hawa tahun baru China, Sin Cia, tidak ada salahnya mengunjungi dunia China peranakan.Jakarta, Kabarindo - Target pertama ialah Dapur Babah Elite di Jalan Veteran 1 Jakarta Pusat yang pada masa kumpeni dikenal sebagai Citadel Straat.
Pionir restoran peranakan di negeri ini menempati dua ruko peninggalan masa kolonial, hanya terpisah satu pintu dari Es Krim Ragusa yang juga berdiri sejak para londo bercokol di negeri ini. Patung Budha raksasa berwarna putih di depan pintu utama, seolah menjanjikan petualangan mengasyikkan.
Benar saja, patung Budha, Dewi Kwan Im, lukisan-lukisan hingga poster iklan jadul di restoran yang didirikan pada 2004 itu membuat kami terbawa ke sebuah masa ketika Indonesia masih terbagi dalam kasta. Ada para noni dan meneer yang paling dihormati, serta para babah di posisi kedua, disusul pribumi di status terbawah.
Tapi tidak semua kaum pribumi dinomortigakan. Orang-orang lokal masih bisa naik derajat, asal mereka menikah dengan kasta diatasnya. Nah, mereka yang menikah dengan imigran China kemudian disebut kaum peranakan. Anak cucu yang lahir dari perkawinan campur itulah yang dipanggil Babah. Istilah ini populer di Malaysia juga pada sebagian etnis Betawi dan Jawa.
Para Babah prigel mengawinkan masakan China Daratan dengan menu lokal, terkadang melibatkan gaya kuliner kolonial. Mereka mengawinkan tradisi kuliner Cina yang kaya dengan aneka ragam sup, banyak diwarnai kecap serta tak bisa jauh-jauh dari ayam dan bebek.
"Menunya dikoleksi dari resep-resep rahasia keluarga peranakan, jadi pasti otentik dan enak," kata Desiree Zecha, Executive Sales Manager Dapur Babah yang menemani kami.
Menu pertama yang kami cicipi adalah Lidah Sapi Terseloeboeng. Lidah dibumbui bestik, dengan bumbu kecap dan merica. Bestik sendiri merupakan upaya masyarakat Jawa menerjemahkan menu steak yang dibawa para meneer di masa lalu. Selain namanya yang kemudian dijawakan, perendamnya pun dilokalkan dengan melibatkan kecap.
Puas menikmati kelembutan sajian lidah yang sebenarnya lebih kental unsur kolonial dan Jawa-nya, kami lalu beralih ke nasi hijau yang disajikan dalam pincukan daun pisang. "Kita pakai daun suji untuk mendapatkan warna hijaunya dan pandan agar wangi," kata Desiree.
Benar saja, selain pulen dan gurih, keharuman dan wujudnya yang segar membuat nasi -bahkan tanpa lauk pun-, tandas dalam sekejap. Sebagai penutup, giliran lontong cap gomeh, sajian wajib di dapur peranakan yang dihidangkan dua pekan setelah imlek. Sang lontong tiba dengan pasukan lengkap, ada ayam yang dibumbui opor kuning, sayur pepaya berpadu pete, udang goreng kering serta serundeng udang dan kelapa.
"Yang paling istimewa, yang khas Babah adalah bubuk kedelainya. Buat menikmatinya, ini mesti dicampurkan dengan kuah," kata Desiree.
Petulangan belum berakhir. Jika Dapur Babah menghadirkan suasana eksotik nan otentik yang avant garde, kini giliran mencicipi sajian peranakan yang juga telah hip di kalangan urban. Kami pun berputar ke Plaza Semanggi menuju salah satu dari tujuh cabang Radja Ketjil yang tersebar di seantero Jakarta.
Dari segi desain, restoran milik Calerina serta komedian Tika Panggabean ini kentara lebih ringan kendati tetap berusaha menghadirkan suasana masa lalu. Ada nampan kaleng dan rantang besi berlukis kembang-kembang yang dipajang bersama daun pintu, pagar dan kandang burung yang pasti akan membuat setiap orang bergumam, mengingat-ingat masa lalu.
Kami dijamu ayam goreng Ibu Tiri berbalut ulekan cabe rawit hijau berhiaskan irisan daun bawang. Ada juga menu favorit Radja Ketjil lainnya, tahu hujin tje lie rina yang konon merupakan nama peranakan si pemilik. Niat awal sekadar icip-icip pun runtuh. Ayam goreng yang konon pedasnya mirip ibu tiri yang kejam --karena tentu ada juga yang baik hati--, terasa begitu berani, memaksa kami untuk tak berhenti di suapan pertama. "Kami padukan dengan kemiri, asyik kan?" ujar Risti sang store manager.
Perhatian kemudian berlanjut pada tahu bertabur ayam cincang berbalut saus tiram. Tahu yang dibuat home made di masing-masing resto Radja Ketjil ini bukan hanya melibatkan susu kedelai, tapi juga kuning telur! Irisan daun pocay di bagian bawah tahu membuat tampialnnya kian cantik.
Sumber : Media Indonesia
Isi Komentar Anda
Komentar Tentang Berita ini :














