20-July-2013-14:27:45

Isradi Zainal; Matahari Dari Timur


Demonstran Yang Down To Earth

Pasca 1997-an terang saja itu masih pantas karena memang pria berkacamata yang tembem ini yang terlahir 18 Oktober 1968 masih suka meninju langit dan berteriak lantang dengan mata tajam menatap ketidakadilan penguasa.

Penulis yang terbilang tidak populer menjadi demonstran dari kampus Islami yang konon tidak me'restui' aktivitas yang satu itu justeru mendapat dukungan serta support dari seorang Isradi, putera terbaik dari Bulukumba, Bantaeng dan Gowa Sulawesi Selatan.

"Yah rul, ikut saja Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Menengah-LKMM yang memang ada aturan yang tak tertulis tidak membolehkan dari kampus selain Unhas. Itu kamu butuhkan untuk mendobrak kemapanan dan tradisi paternalistik yang ada," ucapnya kala itu.

Yah, kira-kira sudah 14 tahun yang lalu, penulis yang notabene dari Universitas Muslim Indonesia-UMI tidak punya tradisi seperti itu laiknya UNHAS yang sudah larut dalam kemajemukan dan kebhinekaan pelatihan kepemimpinan. Kalau sekedar LDK biasa atau sekelas Basic Training ala HMI sudah dilalap oleh penulis tapi lanjut pada level selanjutnya justeru dukungan moril itu berasal dari Isradi, 'The Sun".

Walau sering membetulkan letak frame kaca matanya ia tetap melempar senyum dan tampak tak meremehkan karena penulis dari PTS kala itu justeru dengan tepukan bangga, ia mengajak membangun gerakan mahasiswa 90-an berlabel Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi.

Berbekal pengetahuan dan idiopolitorstrata dari mentoring lulusan terbaik teknik perkapalan angkatan 1988 mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Teknik 1992/1993, UMI punya Unit Kegiatan Mahasiswa-UKM baru yaitu Unit Penerbitan Penulisan Mahasiswa-UPPM.

Matahari itu menyinari tidak hanya menguatkan semangat hijau dari penulis untuk mendedikasikan pikiran tidak subjektif kepada diri sendiri atawa egosentris tapi Isradi sang demonstran membiaskan ucapan-ucapannya untuk selalu menjadi as a part of human being is people power.

Isradi sangat percaya dengan semangat ke-bhinekaan, kemajemukan masyarakat untuk selalu respect with others menjadi panglima nuraninya sebagai aktivis mahasiswa Makassar sehingga pantas saja teriakan kami semua bersama AMPD untuk mengembalikan Nama MAKASSAR membuahkan hasil 1 dekade terakhir saat Isradi dan penulis tidak lagi menjadi demonstran tapi sudah hanyut dalam pergaulan pragmatisme.

Siapa peduli ? Apakah Anda tahu bahwa sekelompok mahasiswa UMI, UNHAS, IKIP, Unismuh, IAIN Alauddin, Univ 45 pernah meninju langit dengan tangan kiri dan melontarkan kalimat pedas agar nama Ujungpandang berganti menjadi MAKASSAR.

Salah satu dari aktivis itu adalah Isradi Zainal karena penulis berada tepat disampingnya mengawal idealisme serta fokusnya pada gerakan yang ia danai sendiri sebagai enterpreneur dan jurnalis kampus saat itu.

Penulis sering terlibat pergolakan pemikiran ala Alm Ahmad Wahib untuk mendobrak kemapanan untuk selalu idealis tanpa buta dengan hal-hal pragmatisme tapi tetap saja kalimat itu semua berbuah hikmah pada saatnya justeru saat penulis telah berada di perantauan jauh terpisah bahwa menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada menjadi follower.

Isradi pantas menjadi MATAHARI bagi aktivis dari Perguruan Tinggi Swasta kala itu karena beberapa pinjaman jargon serta wacana berfikirnya justeru melompat zamannya sehingga pencerahan indah pada saatnya.

Penulis ingat sekali saat sumpah serapah keluar kepada birokrat kala itu justeru ia menarik dan mencoba menenangkan agar agenda demokrasi terbaik itu bukan ketololan bereaksi sesaat ibarat masturbasi sehingga nikmatnya cuma sesaat tapi justeru Isradi mengajarkan untuk tetap rapi dari sisi administratif dan portofolio, itu artinya Isradi mendidik temannya menjadi konseptor, pelobi ulung sekaligus eksekutor isyu dalam satu paket, cerdas bukan ?

Hampir 16 tahun karena memang terpisah jarak pilihan untuk melakukan pengabdian setelah menanggalkan baju aktivis, penulis sempat kembali awal 2013, medio Maret lalu dan sempat melirik pojok ruang publik dan mendapati poster dengan foto tertulis Calon Wakil Walikota Makassar periode mendatang mendampingi Adil Patu.

Sontak, penulis tertegun bercampur rasa kangen semilir menyentuh kenangan manis masa lalu saat Isradi masih kurus, rambut kriwil dengan frame kaca mata khas dengan kemeja hitam yang selalu ia kenakan.

"Apa kabar bung Isradi ? Siap dan memang Anda pantas apalagi mendampingi birokrat bersih, humble, sholeh dan berpengalaman Adil Patu," seloroh spontan penulis.

Isradi konon kabarnya sudah menjadi pengusaha energi dan eksplorasi hasil bumi dan ia terbilang sukses menjadi enterpreneur termasuk menjadi pemilik beberapa media massa yang titik nadirnya adalah memperkerjakan teman-temannya dulu semasa menjadi aktivis.

Bulan Suci Ramadhan ini, penulis kembali bertemu dan sejumput helai rambut putih sudah menghiasi mahkota sang Matahari dari Timur ini tapi tetap saja senyum dan dekapan sang demonstran masih ada dan makin kuat.

Kalimat bijak dan santun tetap mengalir menyejukkan keluar dari mulut dari The Sun ini. Mengingatkan untuk tetap humble dan tetap bermanfaat bagi lingkungan sehingga memang tidak ada yang berubah kecuali uban yang mengingatkan bahwa usia menggerogoti untuk mendesak tugas-tugas mulia apalagi yang harus kita kerjakan untuk kepentingan bangsa, negara dan agama.

Isradi selalu berpijak pada kemanusiaan yang lebih hakiki sehingga restorasi yang ia anut adalah Nasionalisme Religi Sosialis yang lebih mengedepankan AKSI NYATA daripada jargon semata.

Isradi tidak hanya berhasil meyakinkan penulis bahwa menjadi seseorang dengan kompetensi tertentu harus BERPROSES tapi lebih daripada itu UJIAN dari sebuah eksistensi lebih MULIA daripada hanya terbuai dengan jargon-jargon atau malah lebih parah alih-alih harus menjadi trensetter malah menjadi follower.

Isradi kini eksis menjadi kawan potret kekinian yang memang harus diberikan kesempatan berbuat banyak untuk kota dimana ia perjuangkan dulu pengembaliannya dari Ujungpandang menjadi MAKASSAR. Ia tak hanya berpengalaman tapi yang paling penting sudah BERDUIT sebelum ada kesempatan siapapun untuk menyogoknya.

Penulis pun teringat bahwa memang menjadi birokrat itu harus kaya raya dulu agar pembiayaan atas Politic Budget itu semua berasal dari assesment yang transparan sehingga tidak perlu berterima kasih atau aksi balas budi dengan siapapun yang akan menjadi cukong.

Anda memilih seseorang dengan portofolio yang jelas lebih mencerahkan karena kesederhanaannya daripada sejuta jargon yang masih mulus karena memang masih banyak orang yang selalu piawai berbohong daripada mau JUJUR.


MATAHARI DARI TIMUR adalah Isradi Zainal......................!

( Arul Arista )